Press "Enter" to skip to content

Seminar Jejak Pelacur Arab di UIN Sumut Dihujat

Kontroversi seminar yang digelar Lembaga Resam berjudul “Jejak Pelacur Arab dalam Seni Baca Alquran” di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, melukai umat Islam. MUI Pusat meminta agar Muhammad Yaser Arafat sebagai pembicara sekaligus dosen, dipecat karena tidak layak.

Seminar yang digelar pada Senin (11/12/2017) itu dinilai memantik amarah umat Islam. Pasalnya, sang pembicara Yaser Arafat yang juga menjadi dosen dinilai menghina Alquran. Kabar itu langsung ditanggapi pihak rektorat dan memanggil Yasir Arafat untuk dimintai pertanggung jawaban.

Saat dikonfirmasi majalahnurani.com, Wakil Sekjen MUI Pusat KH Tengku Zulkarnain MA mengatakan, sampai sekarang ini, universitas sudah membuat surat memanggil yang bersangkutan dan akan disidang mengenai perbuatan menghina.

“Dijelaskan kalau Alquran itu berutang budi kepada pelacur. Ini menghina sekali,” ungkap Tengku, Rabu (13/12/2017).

Lebih dari itu, lanjut Tengku, seminar tersebut sudah mempermalukan universitas Islam. Perlu diketahui bahwa Yaser Arafat ini juga yang membaca Alquran dengan langgam Jawa waktu Maulid Nabi tahun lalu dan menjadi kontroversi.

“Cara berpikirnya rusak. Harus dipecat dari universitas negeri. Tidak layak menjadi dosen. Apalagi menghina sekali. Bicara pelacur kok membawa-bawa Alquran. Memangnya Alquran membolehkan pelacuran?,” tegas Tengku yang juga Majelis Fatwa Mathlaul Anwar.

Dari pengamatan Tengku, buku yang dijadikan rujukan Yaser yakni karangan orientalis. Artinya buku yang dirujuk itu bukan karangan dari orang Islam.Tidak ada rujukan di daftar pustaka Yaser yang dikarang dari ulama-ulama Islam.

“Semuanya ditulis dari orientalis barat dalam bahasa Inggris. Bobot ilmiahnya kan telihat sekali tidak bermutu,” paparnya.

Menimbulkan Kontroversi

Kabar terbaru, UIN Sumatera Utara sudah membuat tindakan setelah merespon MUI Pusat. Rencananya, rektorat langsung memanggil dan menindak Yasir hari ini juga.

“Menteri Agama juga sudah tahu. Kami MUI mengapresiasi tindakan pihak rektorat dan dekanat yang cepat segera merespon masalah ini,” tutur dia.

Lebih detil Tengku menguraikan adanya universitas Islam negeri bertujuan untuk mendidik bangsa demi kemaslahatan umat dan negara. Sehingga pihak universitas harus memahami agar tidak menggelar seminar yang menghina Alquran.

“Visi misinya kan kehidupan bertakwa muslim. Jangan lari dari visinya itu,” sarannya.

Untuk itu, menurut Tengku, ketika akan menggelar seminar, maka penyelenggara harus mematuhi aturan yang ada. Di uin juga sudah ada tuntunan ketika menggelar seminar. Ada aturannya sehingga hal-hal yang tidak bermanfaat lebih baik tidak dibicarakan.

“Apalagi hal menimbulkan kontroversi kemarahan umat seperti ini. Ini kontraproduktif sebagai institusi keilmuwan,” pungkasnya. 01/Bagus

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *