Press "Enter" to skip to content

Ingin Berkah, Mari Berbisnis dengan Allah Saat Pandemi Corona

Bismillah…
Saudaraku, kita masih ingat. Di awal pandemi covid-19 banyak pengusaha menimbun masker, alat perlindungan diri (APD) hingga hand sanitizer. Keserakahan mereka membuat barang menjadi langka dan harga melambung berkali-kali lipat.


Padahal kalau mereka mau berbisnis dengan Allah dengan menyumbangkan barang barang dan alat kesehatan tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan, tentu hasilnya akan jauh lebih besar dari yang didapatkan saat itu. Selain hal itu sesuai dengan janji Allah, juga sudah dibuktikan banyak orang baik pada masa sahabat maupun pada saat sekarang ini. Hasilnya akan jauh lebih berkah kalau kita mau berbisnis dengan Allah.

BERBISNIS
DENGAN ALLAH
Menolong orang yang sedang dalam kesulitan sama seperti kita menolong Allah. Karena itu maka Allah akan membalas menolong kita dengan memudahkan seluruh urusan kita dan meneguhkan agama kita. Sebagaimana firmanNya:
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad ayat 7)


Selain itu, menebar kebaikan dan sedekah pada saat pandemi seperti sekarang ini sama seperti kita memberi pinjaman kepada Allah. Dan nanti Allah akan membayarnya dengan yang lebih baik. Sebagaimana firmanNya:
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ (QS: At-Taghabun ayat 17)


Kebaikan dan sedekah yang kita lakukan itu, dikatakan oleh Allah sebagai bisnis atau berdagang dengan Allah. Sebagaimana firmanNya:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Faathir [35]: 29)

Baca juga  Ketika Ahli Puasa Divonis Masuk Neraka

SEDEKAH SAAT WABAH
Pada saat wabah sekarang ini ternyata juga banyak yang peduli pada sesama. Tidak semua orang mencari selamat sendiri. Masih banyak orang yang memikirkan nasib orang lain yang sedang menderita. Kita temukan sebuah program infaq di tengah masyarakat dengan nama yang sangat bagus yaitu Program “Tak Rela Mereka Lapar”. Target penerima manfaat program ini sebanyak 1.000.000 jiwa terdampak Corona.


Juga ada kepedulian warga yang membagi
paket sayuran yang dilakukan komunitas Santri Lomo di Salatiga, Jawa Tengah. Sedekah sayur yang dibagikan oleh petani lereng Gunung Telomoyo yang tergabung dalam komunitas Santri Lomo tersebut telah membagikan 400-800 paket sayur setiap hari jumat ke sejumlah daerah seperti Kabupaten Semarang, Salatiga, Muntilan, Solo dan Magelang untuk membantu warga terdampak pandemi covid-19.

TELADAN SAHABAT
Ada kisah menarik dari teladan Utsman bin Affan. Saat itu tahun 17 Hijriah, Jazirah Arab mengalami paceklik panjang. Kelaparan di mana-mana. Panen gagal, tumbuhan mati. Tidak ada makanan untuk dimakan.


Banyak warga Arab Badui yang kelaparan mengungsi ke Madinah. Namun kondisi di pusat pemerintahan itu pun sama sengsaranya. Situasi tak menentu sementara kota semakin padat.
Di tengah kelaparan itu, datanglah kafilah milik Utsman. Jumlahnya 1.000 unta yang dipenuhi bahan makanan dari Syam.


Di gerbang Madinah, para pedagang menghentikan rombongan milik konglomerat Muslim itu. Mereka menawar untuk membeli bahan makanan, hingga harga berkali-kali lipat. Maklum saja, dengan langkanya bahan makanan, harganya akan melambung tinggi jika dijual lagi.
Para pedagang terus menaikkan tawaran mereka. Namun Utsman tetap teguh tak tergoda.
“Seribu unta ini sedekah bagi penduduk Madinah,” tegas Utsman.

Baca juga  Menjadi Hamba yang Diingat Allah


Bantuan Utsman itu membantu menanggulangi kelaparan di Madinah. Bagi Utsman menyedekahkan seluruh barang dagangannya lebih bernilai dari keuntungan berlipat ganda.
Utsman merupakan sosok yang berhati lembut, pemalu, dan juga cerdas serta amat dermawan itu juga pernah membeli sumur orang Yahudi untuk memenuhi hajat penduduk Madinah.


Pada saat itu di Madinah hanya ada satu sumur yang mengeluarkan air. Sumur tersebut dimiliki seorang Yahudi.
Seorang Yahudi tersebut menjual airnya kepada umat Islam dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja umat Islam menjadi resah dengan persoalan ini.


Kabar ini akhirnya sampai kepada Rasulullah. Rasulullah lantas menyeru kepada para sahabatnya untuk menyelesaikan persoalan air dan sumur tersebut. Beliau menjanjikan siapapun yang membeli sumur miliki Yahudi itu dan mewakafkannya untuk umat Islam, maka kelak ia akan mendapatkan minuman di surga, sebanyak air dalam sumur tersebut


Utsman bin Affan langsung mendatangi seorang Yahudi pemilik sumur tersebut usai mendengar seruan Rasulullah. Ia bernegosiasi dengan sang pemilik sumur. Setelah terjadi diskusi yang alot, akhirnya pemilik sumur bersedia menjual dengan harga 12.000 dirham.
Namun harga itu tidak untuk semuanya, tapi hanya separuh saja. Artinya, kepemilikan sumur bergantian. Sehari dimiliki Utsman sehingga umat Islam bebas mengambil air pada hari itu, sementara hari berikutnya untuk Yahudi. Ketentuan seperti itu berlaku hingga hari-hari selanjutnya.


Kondisi demikian berjalan beberapa saat. Hingga akhirnya seorang Yahudi pemilik sumur tersebut menawarkan kepada Utsman untuk membeli secara penuh. Utsman mengeluarkan 8.000 dirham lagi dari kantongnya untuk melunasi harga sumur.
Dengan demikian, sumur sudah dimiliki Utsman secara penuh. Sumur ini lantas diwakafkan sehingga umat Islam bebas mengambil air kapan pun mereka butuh. Sumur tersebut dikenal dengan nama sumur Raumah.

Baca juga  Kisah Julaibib, yang Diperebutkan Bidadari Surga

ADA HIKMAH
Hikmah yang bisa diambil dari ayat Alquran dan kisah Ustman di atas adalah bahwa kehidupan di dunia itu fana’, tidak kekal dan tidak abadi. Apa yang kita lakukan sekarang ini sangat menentukan nasib kita di hadapan Allah nanti. Karena itu, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas di saat pandemi Corona sedang berlangsung di negeri kita.

  1. Jangan mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Selain harta tidak berkah, Allah juga akan mempersulit masa depan kita. Kalau kita mempersulit urusan orang lain maka Allah akan mempersulit urusan kita.
  2. Kalau kita ingin harta kita berkah di dunia maupun di akhirat, mari kita mulai berbisnis dengan Allah terutama di masa pandemi corona ini. Karena berbisnis dengan Allah tidak akan rugi, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau kita mau menolong orang yang sedang kesulitan di masa pandemi ini, maka Allah akan menolong kita di masa-masa yang akan datang. Memudahkan semua urusan kita, keluarga kita, baik di dunia maupun di akhirat.
    Semoga bermanfaat..( Nur Cahya Hadi , Direktur Majalah Nurani Indonesia dan TL Mina Wisata Travel Haji dan Umrah)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *