Press "Enter" to skip to content

40 Kali Haji dibatalkan, Haruskah Tahun ini Dibatalkan lagi?

Sampai hari ini, Kerajaan Arab Saudi belum memutuskan apakah ibadah haji dilaksanakan atau dibatalkan di masa pandemi corona saat ini. Meskipun demikian, ternyata sejarah mencatat lebih dari 40 kali haji pernah dibatalkan. Bahkan dibatalkan karena wabah penyakit thaun dan colera juga pernah.Berikut di antaranya penyebabnya:

Pertama, terjadinya pembantaian di Arafah
Pada tahun 251 H (865 M), pelaksanaan haji dibatalkan karena terjadi pembantaian besar-besaran oleh Ismail Yusuf Al-Alawiy dan pengikutnya.

Berikutnya pernah terjadi juga 10 Tahun Tanpa Haji Karena Syiah Qaramitah Ad-Dzahabi dalam buku “Tarikh Islam” (jilid 23, hal 274), menulis bahwa pada tahun 316 H (929 M), tidak ada satupun jemaah menunaikan ibadah haji, karena takut oleh Qaramitah.

Kemudian pada 8 Dzulhijjah 317 H (930 M), Abu Thahir al-Qaramithiy, berdiri di depan pintu Ka’bah dan menyeru kepada pengikutnya untuk membantai jemaah haji. Dia berseru, “Habisi orang-orang kafir dan penyembah batu, lepaskan sudut-sudut Ka’bah dan cabut Hajar Aswad,”.

Terjadi pembantaian jemaah haji hingga 30 ribu. Abu Thahir berkata: “Aku dengan Allah, Allah denganku…. Dia menciptakan makhluk, dan aku yang memusnahkannya.”

Kaum Qaramitah berhasil mencongkel Hajar Aswad dan dibawa lari selama 22 tahun ke Qatif atau ada yang mengatakan ke Al-Ahsa, Wilayah Timur Arab Saudi saat ini.

Mereka hampir saja berhasil mencuri maqam Ibrahim, tetapi para Khadimul Ka’bah saat itu berhasil menyembunyikannya. Qaramitah menganggap bahwa ibadah haji adalah peribadatan kaum jahiliyah yang menyembah berhala.

Baca juga  Kabar Gembira, Ringankan Dampak Corona, Pembayaran Kredit KUR Bisa Ditunda 6 Bulan

Kemudian haji pernah batal karena
Wabah Tha’un. Ibnu Katsir dalam bukunya “al-Bidayah wal Nihayah,” mengisahkan pada awal 357 H (968 M), terjadi wabah tha’un di Makkah.
Sejumlah jemaah haji banyak yang meninggal di perjalanan karena kehausan dan belum sampai ke kota Makkah kecuali sedikit saja. Yang tiba di Makkah, kebanyakan meninggal setelah berhaji.

Kemudian, Jemaah Irak Tidak Berhaji Selama 8 Tahun Pada tahun 372 H (983 M), dikatakan bawah tidak ada satupun jemaah haji asal Irak yang berangkat ke Makkah hingga 380 H (991 M), karena perselisihan antara penerus Khilafah Bani Abbas dan Bani Ubaid .


Setelah itu ada juga Haji Tanpa Jemaah Mesir
Pada tahun 390 H (1000 M), di masa pemerintahan Al-Aziz Billah Al-Fathimiyah, jemaah dari Mesir tidak dapat menunaikan ibadah haji karena tingginya biaya hidup.


Selanjutnya, fitnah Baghdad. Imam Dzahabi menyebutkan dalam kitab sejarahnya, pada tahun 392 H (1002 M), terjadi pemberontakan masyarakat Baghdad melawan kaum Nashara, tetapi berhasil dipatahkan sehingga terjadilah berbagai fitnah di Baghdad.

Cuaca Buruk Mencegah Rakyat Irak Berhaji
Ibn Al-Atsir mengatakan dalam peristiwa tahun 417 H (1026 M): “Pada tahun ini, musim dingin ekstrim terjadi di Irak, di mana air membeku di Tigris dan sungai-sungai besar, saluran air membeku semua, hujan terlambat turun, tidak ada yang bercocok tanam kecuali sedikit. Pada saat itu jemaah haji Khorasan dan Irak dibatalkan”.

Baca juga  Data Pasien Corona Sembuh Meningkat, 28 April: Total 1.254 Orang

Pada tahun selanjutnya pada tahun 419 H (1001 M), baik orang-orang Masyriq, maupun Mesir, tidak dapat menunaikan ibadah haji.

Hilangnya Rasa Aman
“Durah Malik Abdulaziz” menyatakan bahwa pada tahun 492 H (1099 M), umat Islam dihadapkan dengan kekacauan dan kehilangan rasa aman, karena di seluruh negara mereka terjadi konflik antara raja-raja mereka. Dan 5 tahun sebelum Al-Quds jatuh di tangan Tentara Salib, tidak ada yang berangkat haji.

Adapun peristiwa tahun 563 H (1168 M), penduduk Mesir tidak dapat melakukan haji lagi, karena terlibat perang Asad al-Din. Setelah itu, tidak satupun dari negara lain kecuali Hejaz yang berhaji dari tahun 654 H (1256 M) sampai tahun 658 H (1260 M).


Berbagai Sebab Haji Dibatalkan
Pada tahun 655 H (1257 M), tidak satu orangpun menunaikan haji dari Hijaj, dan tidak ada panji-panji raja yang dinaikkan di Mekah.

Pada 1213 H (1799 M), perjalanan haji dihentikan karena gangguan pasukan Perancis, perjalanan haji menjadi tidak aman.

Pada 1229 H (1814 M), sekitar 8.000 orang meninggal di Hijaz karena wabah Tho’un.

Pada tahun 1246 H (1831 M), epidemi India terjadi selama musim haji, 3/4 jemaah haji meninggal.
Selama tiga tahun berturut-turut, dari 1253 M (1837 M) hingga 1256 H (1840 M), terjadi wabah penyakit di Hijaz.

Baca juga  Kemenhub: Kru Pesawat Lion Air Sempat Minta Return to Base


Wabah kolera terjadi pada tahun 1262 H (1846 M) hingga 1266 H (1850 M). Kemudian kembali terjadi pada 1282 H (1865 M) sampai tahun 1300 H (1883 M).


Pada 1274 H (1858 M), tersebar waba penyakit yang meluas, yang mendorong penduduk melarikan diri dari Hijaz ke Mesir. Dilakukan karantina di wilayah Bi’ir Anbar agar wabah tidak menyebar.

Pada tahun 1281 H (1864 M), seribu peziarah meninggal setiap hari, karena terjadi wabah yang sangat serius.


Pada tahun 1288 H (1871), terjadi epidemi di Madinah al-Munawwarah, pada dokter Mesir dikerahkan untuk mengatasinya, beberapa lokasi di perjalanan Mekah – Madinah dijadikan lokasi karantina.


Di tahun 1309 H (1892 M), wabah korela menyerang pada musim haji, banyak jemaah haji meninggal dunia, sehingga tidak sempat dikuburkan semuanya. Korban yang meninggal bertambah di Arafah dan Mina.


Tahun 1312 H (1895 M), terjadi wabah demam tifoid, yang berasal dari kabilah yang tiba dari Madinah al-Munawwarah, berkurang saat di Arafah dan dinyatakan hilang saat di Mina.
Di tahun 1344 H (1926 H), terjadi pada peristiwa “Al-Mahmal Mesir” yang menyebabkan terputusnya jemaah haji dari Mesir. (01/saudinesia)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *