Press "Enter" to skip to content

Wacana Mapel Agama Dilebur, KPAI: Bukan Berarti Ganti Menteri Ganti Kurikulum

Saat ini kontroversi wacana penyederhanaan kurikulum melalui peleburan mata pelajaran pendidikan agama dengan mata pelajaran PPKN dan budi pekerti mencuat di publik.

Dokumen materi Focuse Group Discussion juga beredar di media sosial dan menjadi perbicangan hangat di masyarakat.

KEDANGKALAN

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan, terkait wacana itu bisa menimbulkan kedangkalan anak dalam memahami ajaran agama.

Ketua KPAI, Dr Susanto mengatakan, Indonesia merupakan negara yang berlandaskan Pancasila.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, meniscayakan bahwa seluruh proses berbangsa dan bernegara termasuk layanan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari sila pertama. Apalagi menurut Pasal 2 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, menegaskan “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

“Dengan demikian, mata pelajaran pendidikan agama sebagai upaya untuk penguatan pemahaman, sikap dan perilaku keagamaan peserta didik di satuan pendidikan, merupakan penerapan dari sila pertama,” tuturnya, Jumat (19/6/2020).

Baca juga  Jejak Pasien Corona di Kediri : Pulang Umroh,  Positif, dan Meninggal Dunia

Menurut Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Pendidikan nasional, lanjut Susanto, berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mencermati dari tujuan pendidikan nasional dimaksud, bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia. Di lain pihak, Pasal 36 ayat (3) secara tegas menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan

Baca juga  Viral Foto Anak Jihad 22 Mei, KPAI Undang TKN-BPN

a. peningkatan iman dan takwa;
b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

“Struktur kurikulum harus menyesuaikan dan tidak keluar dari nafas dan mandat sistem pendidikan nasional Indonesia dimaksud,” sambungnya.

Susanto mengakui, kurikulum nasional memang harus adaptif untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kehidupan global yang semakin kompetitif.

“Namun bukan berarti ganti menteri ganti kurikulum,” tegasnya.

Karena, ungkapnya, perubahan kurikulum harus berdasarkan kajian yang matang, komprehensif dan cermat dengan tetap memperhatikan akar budaya, kekhasan suatu bangsa dan mengacu pada ideologi negara dan tujuan pendidikan nasional.

TERORISME

Menurut Susanto, penggabungan materi pendidikan agama dengan mata pelajaran lain, dapat berpotensi mengurangi muatan materi pendidikan agama.

Baca juga  Waspadai Penularan Covid-19, Surabaya Kembali Zona Merah

Dampak pengurangan muatan materi agama, rentan menimbulkan kedangkalan anak dalam memahami ajaran suatu agama dan mendegradasi penguatan karakter unggul pada anak.

“Karena dalam banyak kasus, seseorang (termasuk anak) yang terpapar faham radikalisme dan terorisme, umumnya mereka memiliki pemahamaan ajaran agama yang dangkal, sehingga mereka mudah terindoktrinasi faham yang salah. Dengan demikian, untuk mencegah anak terpapar faham radikalisme dan terorisme, peningkatan pemahaman dan perilaku keagamaan merupakan upaya strategis yang harus dilakukan,” tegasnya. Bagus

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *