UNESA Kukuhkan Enam Guru Besar Baru

Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengukuhkan enam guru besar (gubes) berbagai bidang ilmu di Auditorium, Rektorat, Kampus Lidah Wetan, Surabaya pada Selasa (25/7). Dengan penambahan ini, UNESA memiliki 93 gubes.

Rektor UNESA Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., atau yang akrab disapa Cak Hasan mengatakan bahwa penambahan gubes ini merupakan bagian dari komitmennya untuk meningkatkan kualitas SDM dan kualitas pelaksanaan tridarma perguruan tinggi di kampus ‘Rumah Para Juara’ yang sudah PTN-BH. Gubes harus menjadi lokomotif yang terus mendorong peningkatan kualitas riset di perguruan tinggi. Riset, tambahnya, menjadi pondasi penting dalam melakukan berbagai transformasi dan inovasi.

“Kita hidup di era yang menuntut adaptabilitas tinggi. Kunci adaptasi ini yaitu akselerasi, inovasi dan kreativitas di lingkungan kampus. Kita harap, gubes ini menjadi produser iptek, meningkatkan riset dan publikasi ilmiah yang terekognisi internasional,” ucapnya.

Cak Hasan mendapat informasi, ada beberapa perguruan tinggi top dunia yang melebarkan sayapnya dengan membuka prodi magister dan doktor di Indonesia. Ini tantangan sekaligus peluang bagi UNESA untuk terus meningkatkan kualitas SDM, pendidikan dan kualitas lulusan agar bisa setara dengan perguruan tinggi top dunia. Pihaknya bakal berkolaborasi dengan mereka memperkuat kultur akademik dan riset. Salah satu kampus yang mau buka prodi di Surabaya seperti Western University misalnya sudah membahas kerja sama dengan UNESA.

Baca juga  Dispendik Surabaya Gencarkan Pembekalan Guru Siswa Inklusi

“Kami siapkan SDM dari berbagai sisi agar tercipta sinergi yang produktif dan berkelanjutan. Kekuatan apa yang bisa dikolaborasikan dengan mereka itu yang dipetakan. Dengan gubes ini tentu ini bisa menjadi penguatan buat UNESA ke arah kolaborasi internasional,” ucapnya.

Cak Hasan menargetkan, UNESA bisa menghasilkan sekitar 12 sampai 18 guru besar tiap tahunnya. Mendukung target ini, pihaknya sudah memiliki program percepatan guru besar yang gencar dilakukan beberapa tahun belakangan ini. “Kami ada program pendanaan khusus untuk mendorong para doktor agar bisa meningkatkan kualitas dan kuantitasnya (kredit), didorong untuk mengajukan guru besar serta memberikan pendampingan khusus agar sesuai persyaratan teknis maupun akademik dan cepat meraih jabatan guru besar,” bebernya.

Baca juga  Jalin Persaudaraan, Siswa SMP Al Falah Darmo Keliling Silaturahim ke Warga

Ragam kepakaran adapun nama-nama guru besar yang dikukuhkan tersebut; 1) Prof. Dr. Najlatun Naqiyah, M.Pd., Guru Besar Ilmu Konseling; 2) Prof. Dr. Nasution, M.Hum., M.Ed., Ph.D., Guru Besar Ilmu Pendidikan IPS; 3) Prof. Dr. Ketut Prasetyo, M.S., Guru Besar Ilmu Pendidikan Lingkungan; 4) Prof. Drs. Suroto, M.A., Ph.D., Guru Besar Ilmu Pendidikan Jasmani; 5) Prof. Dr. Agus Hariyanto, M.Kes., Guru Besar Ilmu Kepelatihan Olahraga; 6) Prof. Dr. Budi Purwoko, S.Pd., M.Pd., Guru Besar Ilmu Manajemen dan Organisasi BK.

Dalam pidatonya, Prof Agus Hariyanto menyampaikan tentang ‘Prestasi Olahraga dan Pengembangan Generasi Muda yang Sehat dan Bugar dalam Bingkai Metode Long Term Athlete Development (LTAD)”. Pria yang menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni periode 2018-2022 ini mengatakan bahwa ada beberapa tantangan pengembangan olahraga prestasi di Indonesia. Di antaranya orang tua menginginkan anaknya segera menjadi juara, ini ditambah dengan faktor pelatih juga yang terlalu cepat menginginkan atletnya menjuarai kompetisi secepat mungkin. Sehingga, pengembangan prestasi atlet terkesan dipaksakan dan tidak sesuai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, menurutnya, diperlukan perencanaan latihan yang tepat, terutama bagi seorang pelatih saat menyusun program latihan, agar sesuai dengan karakteristik atlet, sarana prasarana, waktunya dan juga organisasi yang menaunginya.

Baca juga  Komunitas Railfans dan Pramuka Surabaya Sukseskan Angkutan Lebaran 2024

“Pendekatan LTAD ini menjawab kebutuhan gerak dasar, kemampuan motorik dan juga penggunaan model latihan fisik sesuai umur hingga ketika atlet pensiun. Pendekatan ini punya beberapa tahapan di antaranya, literasi gerak yang berkonsentrasi pada skill gerak dasar dan skill menyeluruh,” tandasnya. (Ra, foto-foto: Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed