Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar kuliah pakar dan visiting professor pada Selasa (29/8) di lantai 9 Tower Kampus B Unusa Jemursari. Kuliah pakar ini mengangkat tema Migrant Health & Human Rights.
Hadir kala itu sebagai narasumber, Prof Kim Soo Il (FMR Ammbassador of Korea/Chair Professor of daeshin University), Dr Nedal Odeh (Senior Migration Health Officer IOM Indonesia), Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI), Hindun Anisah. Kemudian Rektor Unusa Unusa, Prof Achmad Jazidie didampingi Dekan FK Unusa, Dr Handayani, MKes.
Dalam sambutannya Prof Jazidie mengapresiasi FK Unusa karena mengangkat tema sensitif tentang kesehatan migran. Menurut dia memang perlu edukasi memadai tentang migran. “Edukasi, sosialisasi migran, khususnya kesehatan migran, itu jadi penting di Republik Indonesia,” ucapnya.

Bahkan Prof Jazidie mengajak agar bangsa Indonesia menyadari bahwa saudara kita juga ada yang bekerja di negara lain. Maka mestinya warga Indonesia welcome terhadap warga asing yang hadir di negara kita. “Yang penting bahwa, pertama pengungsi ini harus sehat. Menjaga kesehatan baru bisa berinteraksi dengan baik. Bisa menjaga keluarganya, bisa menghidupi dirinya sendiri dan keluarga,” jelas Rektor.
Sementara Dekan FK Unusa Dr Handayani mengungkapkan, pada hari ini, FK Unusa mengadakan kegiatan dan menghadirkan berbagai pembicara dari berbagai latar belakang. Salah satu isu utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah kesehatan migran. Acara ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan yang diadakan oleh FK Unusa dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-9.

Kegiatan ini juga bekerjasama dengan International Organization for Migration (IOM), yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terutama untuk mendorong kesejahteraan migran. “Terungkap bahwa sekitar 300 migran dari berbagai negara, seperti Lebanon, Pakistan, Afghanistan, dan lainnya, berada di daerah Puspa Agro dengan status yang tidak jelas. Mereka hidup di asrama di sana dan tidak memiliki identitas resmi, sehingga tidak bisa bekerja secara formal. Namun, mereka masih mendapatkan bantuan dana dari PBB untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka,” ungkapnya.
Handayani menambahkan, FK Unusa terlibat dalam memberikan pelatihan keterampilan kesehatan kepada para migran ini. Tujuannya adalah untuk membekali mereka dengan pengetahuan tentang bagaimana menjaga kesehatan mereka sendiri dan teman-teman mereka di lingkungan yang sulit, di mana stres sering kali dihadapi. Mereka mungkin tinggal dalam kondisi lingkungan yang tidak pasti dan tanpa jaminan masa depan yang jelas.
“Beberapa migran telah berada dalam kondisi ini selama bertahun-tahun, banyak dari mereka yang masih berusia muda mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pendidikan. Namun, ada batasan dan pembatasan yang diberlakukan oleh PBB terkait pekerjaan formal untuk migran ini,” ungkapnya.
Dalam acara ini di lantai dasar Tower Unusa, FK Unusa juga mencoba memberikan hiburan dan keceriaan kepada para migran, yang umumnya berada dalam situasi yang sulit. Berbagai penampilan budaya dan makanan tradisional disajikan untuk memberikan mereka momen kesenangan meskipun dalam kondisi yang menantang. Sebelumnya ditandatangani pula MoU antara Unusa dan IOM Indonesia. (Ra, foto: Bagus)










