Gus Kikin Ungkap Fakta Keterlibatan Santri dan Ulama Sejarah Berdirinya Indonesia

Pertempuran rakyat dari berbagai penjuru dan segenap elemen masyarakat termasuk ulama dan santri melawan pasukan sekutu di Surabaya pada 10 November 1945 tidak seperti yang digambarkan dalam buku-buku sejarah selama ini. Pasalnya, perlawanan rakyat yang kerap digambarkan layaknya kelompok tawuran tersebut justru sudah terkonsep dengan baik hingga pasukan sekutu bisa dipukul mundur.

Inilah yang diungkapkan Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz dalam paparannya di Orasi Kebangsaan bertajuk Resolusi Jihad Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari Sebagai Fakta Sejarah Berdirinya Republik Indonesia di Aula Ternate Aseec Kampus B Unair Surabaya, Kamis (31/8).

Sejumlah pembicara hadir dalam Orasi Kebangsaan tersebut yakni KH Ulil Absar Abdala Ketua PBNU, Prof Katjung Marijan Guru Besar Ilmu Politik Unair, KH Ahmad Baso penulis buku NU Studies dan KH Ahmad Khuluk Wakil Ketua Dewan Pembina Pagar Nusa Jatim.

Baca juga  Drone Houthi Berhasil Ledakkan Tel Aviv

Gus Kikin, sapaan akrab KH Abdul Hakim Mahfudz merunut sejarah dimana Jepang yang saat itu menyerah. Kemudian Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 memunculkan niatan Belanda dan tentara sekutu untuk kembali masuk ke Indonesia. “16 September sekutu masuk ke Indonesia. Di Jakarta, Bandung dan Semarang tidak ada perlawanan. Namun saat ada kabar akan masuk ke Surabaya pada 25 Oktober, Kiai Hasyim Asy’ari mendahuluinya dengan mengumukan Fatwa Jihad,” terangnya.

Fatwa tersebut kemudian menjadi tonggak Resoluai Jihad hingga menggugah seluruh kalangan santri dan ulama dari berbagai daerah untuk berbondong-bondong menuju Surabaya guna melakukan perlawanan. Inilah yang kemudian mambuat target tiga hari membumi hanguskan Surabaya yang dilontarkan sekutu tidak tercapai.

Baca juga  Tegas Dukung Palestina, Bella Hadid Dipecat dari Iklan Adidas

“Jadi pertempuran 10 November di Surabaya bukan seperti tawuran. Ada pasukan Hisbullah, Sabilillah dan Mujahidin yang sangat terlatih di dalamnya. Mereka yang menggerakan kekuatan masyarakat. Sebab dalam perjalananya menuju Surabaya banyak masyarakat yang ikut serta, namun lagi lagi ini tidak ada dalam catatan buku sejarah,” jelasnya.

Gus Kikin melanjutkan, komando perlawanan rakyat justu datang dari Jatim sendiri berlandas Fatwa Jihad KH Hasyim Asyari bukan dari pemerintahan yang baru  terbentuk. Fakta-fakta tersebut masih secuil dari banyak fakta keterlibatan santri dan ulama khususnya Nahdlatul Ulama dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.

“Tanpa Resolusi Jihad kita mungkin tidak sepenuhnya merdeka. Makanya sejarah harus diluruskan. Untuk itu ini manjadi tugas NU merevisi buku buku sejarah yang selama ini tidak memunculkan peran  santri dan ulama. Terutama Resolusi Jihad yang menjadi tonggak berdirinya NKRI. Resolusi Jihad juga menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional yang sudah disahkan sejak 2015. “PCNU Surabaya harus bisa dan berani mengungkap fakta sejarah yang belum terungkap,” tegasnya. (Ra, foto: Agil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed