Ahli Waris WR Soepratman Luruskan Fakta Sejarah yang Selama Ini Keliru

Perwakilan keluarga besar ahli waris WR Soepratman yang terhimpun dalam Yayasan WR Soepratman berhasil mengoreksi catatan tempat dan tanggal lahir WR Soepratman di Ruang Indonesia Raya di Museum Sumpah Pemuda, Jumat (22/9). “Ada catatan yang keliru yaitu Purworejo 19 Maret 1903 tapi ditulis Jatinegara 9 Maret 1903′,” ungkap Budi Harry, Ketua Yayasan WR Soepratman dalam siaran pers yang diterima majalahnurani.com.

Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kurniawaty, Kepala Museum Sumpah Pemuda dan Eko Septian Saputra, Kurator Museum Sumpah Pemuda atas hal ini. “Ini merupakan milestone, salah satu pencapaian yang membanggakan bagi Yayasan WR Soepratman untuk memperjuangkan pelurusan fakta sejarah tentang Pahlawan Wage Rudolf Soepratman,” ungkapnya.

Baca juga  Presiden Jokowi Ingatkan Ancaman Perang Siber dan Judi Online

Selama ini beredar banyak misinformasi seperti tempat dan tanggal lahir, agama, status perkawinan, karya ciptaan dan kisah hidupnya. “WR Soepratman sering disalahposisikan. Beliau dianggap pejuang karena menciptakan national anthem. Padahal beliau lebih dari itu,” ujarnya.

WR Soepratman adalah pembaharu seni dengan narasi sebagai wartawan yang menempuh risiko dengan berani menulis kritik terhadap penjajah Belanda. WR Soepratman adalah patriot yang paling semangat cinta tanah air dan telah mengorbankan segala-galanya demi tanah air. “Seharusnya Wage Rudolf Soepratman dapat menjadi national icon,” harapnya.

Justru sebaliknya WR Soepratman adalah pahlawan yang sekarang mulai terlupakan. Faktanya, tegas Budi, tidak ada yang tahu bahwa cagar budaya Taman dan Museum Benyamin Sueb di Jatinegara adalah tempat lahirnya WR Soepratman. “Di Jakarta tidak ada satu pun jalan atau taman yang dinamakan WR Soepratman,” ungkapnya.

Baca juga  32 Pejabat Polda dan Kapolres di Jawa Timur Diganti, Inilah Daftarnya

Selain lagu IndonesiaRaya 3 stanza versi asli, masih ada 14 lagu lain ciptaan WR Soepratman yang sudah terlupakan padahal lagunya sangat patriotik dan indah. “Buku sejjarah lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman pentjiptanja, adalah buku pertama dan paling otentik mengenai sejarah Wage yang ditulis oleh iparnya sendiri Pak Oerip Kasansengari (1967), sekarang terancam punah,” katanya. Sejak makam pahlawan nasional WR Soepratman di Surabaya diresmikan sampai sekarang tidak ada satu pun pejabat tinggi negara atau pemerintahan yang datang untuk ziarah ke makamnya. (Ra/Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed