Peduli Pekerja Migran, UNESA Gelar PKM Internasional di Singapura

Permasalahan kesehatan mental seperti stres dan depresi yang kerap dialami pekerja migran Indonesia atau PMI menjadi perhatian bersama. Karena itulah, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNESA lewat tim PKM-nya memberikan Pelatihan Resiliensi dan Pemberdayaan Diri untuk PMI di Kantor KBRI, Singapura pada Minggu, 1 Oktober 2023. Kegiatan ini diikuti puluhan PMI perempuan. Ketua PKM, Dr. Diana Rahmasari.,M.Si., Psikolog., mengatakan, pengabdian kepada masyarakat skema internasional ini bertujuan untuk memberikan penguatan kesehatan mental para wanita pekerja migran Indonesia di Singapura.

“Agar teman-teman ini bisa mengelola emosi dan manajemen stres. Ini sekaligus untuk mengedukasi tentang bahaya depresi sekaligus mengenalkan perbedaan antara stres dan depresi kepada mereka. Seperti yang diketahui, kita rentan stress setiap hari, apalagi bagi teman-teman di sini,” ucapnya.

Baca juga  72 Siswa Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya Ikuti Munaqosyah

Menurutnya, ada beberapa yang bisa memicu stres seperti permasalahan rumah tangga, perceraian, kesehatan, kekhawatiran akan masa depan, risiko dipecat dari pekerjaan, ataupun terlalu banyak beban tanggung jawab. Permasalahan yang bisa memicu stres (stressor) pun bertingkat levelnya, mulai dari stressor akut seperti ancaman keamanan di jalan; stressor kronis sebentar, sampai kronis seperti kondisi medis darurat misalnya. Di kesempatan itu dia juga memberikan sejumlah teknik untuk mengelola stres yaitu teknik afirmasi positif dengan terapi Jose Silva, Brain Gym, teknik Meditasi Abundance (terapi memperbaiki aura dan energi psikis) juga teknik Butterfly Hug yang berarti pelukan kupu-kupu.

“Teknik Butterfly Hug ini bisa diterapkan saat seseorang merasa cemas. Dengan menyilangkan telapak tangan ke pundak, lalu ambil dan buang nafas secara perlahan, tutup mata dan tetap fokus, sambil tepuk-tepuk lembut pundak dengan telapak tangan,” bebernya.

Baca juga  Yayasan Al Muslim Sidoarjo Rayakan Milad ke-37

Lebih lanjut, komunikasi menjadi sangat penting untuk berkehidupan di dunia kerja maupun lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Bukan hanya mengelola stres, tetapi PKM ini memberikan pelatihan bagaimana cara menjalin komunikasi yang efektif dengan atasan atau teman kerja, juga bagaimana bijak untuk berkomunikasi di media sosial. Komunikasi yang kurang baik rentan menimbulkan kesalahpahaman saat bekerja juga bisa memicu timbulnya stres. Stres yang berkelanjutan bisa menyebabkan depresi. tandanya merasa sedih, kosong, merasa tidak berharga, sukar berkonsentrasi, sukar membuat keputusan, mengalami gangguan tidur, berubahnya selera makan, mudah tersinggung hingga gelisah.

Kegiatan pengabdian ini melibatkan 7 srikandi UNESA yaitu Dr. Diana Rahmasari.,M.Si; Dr. Wiwin Yulianingsih, M.Pd; Dr. Utari Dewi, S.Sn., M.Pd; Dr. Nunuk Hariyati, M.Pd; Ira Darmawanti, M.Psi.,Psikolog; Dr. Retno Tri Hariastuti, M.Pd., Kons; dan Vinda Maya Setianingrum, S.Sos., M.A. Mereka didampingi Tantri Darmastuti, staf teknis Tenaga Kerja di KBRI Singapura. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura, IGAK Satrya Wibawa, Ph.D., mengatakan, pelatihan ini sangat dibutuhkan para pekerja imigran karena tekanan pekerjaan yang tinggi saat bekerja bisa menimbulkan stres.

Baca juga  Keseruan Meet And Greet Sekolah Karakter, Hadirkan Pembicara Asal Belanda

“Oleh karena itu, intervensi antar profesional di bidang yang terkait sangat diperlukan. Kami membuka pintu bagi teman-teman UNESA untuk melakukan riset-riset di bidang pendidikan atau ketenagakerjaan yang nantinya bisa berkontribusi dalam pengambilan kebijakan pemerintah,” ucapnya. (Ra/Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed