Kemendikbudristek Gelar Festival Permainan Tradisional, Kampanyekan Sekolah Sehat

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) punya solusi tersendiri untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai, gadget. Seperti pada Selasa (24/10), Kemendikbudristek menggelar Festival Permainan Tradisional di halaman Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Ketintang Surabaya. Kegiatan yang digelar ini dalam rangka Kampanye Sekolah Sehat. Lebih dari 300 peserta didik di Surabaya antusias mengikuti. Termasuk beragam permainan tradisional khas Jawa Timur dimainkan dalam festival tersebut. Mulai dari Sepak Bola Paku, Bakiak, Balap Karung, Kopral, dan Nekeran.

Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek Dr. Muhammad Hasbi mengatakan, permainan tradisional mencerminkan keberagaman dan semangat kebersamaan yang melekat pada masyarakat Indonesia. “Oleh karena itu, mari melestarikan permainan tradisional, karena merupakan warisan nilai-nilai budaya bangsa yang harus kita jaga,” ungkapnya kepada majalahnurani.com.

Baca juga  Inspiratif, Cerita Annisa Lulus dari Unair Dapat Beasiswa S2 di Harvard

Ia pun berharap, melalui permainan tradisional ini, bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai. “Permainan tradisional muncul sebagai solusi efektif untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai. Permainan tradisional diharapkan dapat menarik antusiasme anak-anak untuk aktif bergerak, membiasakan aktivitas fisik melalui kegiatan sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari, sehingga tubuh mereka tetap sehat dan bugar,” sambungnya.

Di festival ini, Kemendikbudristek berkolaborasi dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional (KPOTI), orang tua, guru dan masyarakat sekitar. Peserta didik yang mengikuti Festival Permainan Tradisional adalah peserta didik sekolah dasar dari 31 kecamatan yang ada di kota Surabaya. “Mari sama-sama kita jaga kesehatan anak-anak, rawat dan lestarikan warisan budaya, serta pupuk persatuan di tengah keberagaman budaya Indonesia,” tambah Hasbi.

Walikota Surabaya Eri Cahyadi, yang pagi itu hadir mengaku bersyukur. Menurutnya ini merupakan iniasi Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek yang patut diacungi jempol. “Alhamdulillah ini inisiasi Pak Direktur. Konsepnya hampir sama dengan Pemkot Surabaya yakni menggeliatkan permainan tradisional,” ungkapnya.

Baca juga  Guru Besar Inklusi UNESA Bicara Kesehatan Gigi Bagi Penyandang Disabilitas di Dental Summer Course 2024

Dengan rangkaian kegiatan seperti ini, Eri menilai sekolah memiliki kegiatan sehat. Dimana anak-anak sekolah melakukan permainan tradisional. “Bisa menggerakkan kekompakkan kebersamaan. Jadi gak main gadget tok ae’. Bagaimana permainan tradisional ini membuat mereka berkumpul,” sambungnya.

Adanya permainan tradisional ini, maka anak-anak bisa kumpul lagi, bersama-sama kegiatan. “Ini pandemi sudah hilang. Kita hatapkan permainan tradisional ini bisa membuat anak-anak kembali bersama dan menghilangkan kebiasaan bermain gadget terus,” tegasnya.

Selain itu, di kegiatan ini diselenggarakan juga seminar dengan tema “Sehat gizi-Sehat fisik”. Kepala Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Timur Abu Khaer yang juga sebagai ketua penyelenggara mengatakan, tujuan dari seminar ini adalah untuk mensosialisasikan kebijakan Kemendikbudristek terkait Kampanye Sekolah Sehat. Menaikkan derajat kesehatan peserta didik melalui penerapan pola makan yang tepat dan konsumsi makanan bergizi.

Baca juga  Wali Kota Surabaya Cabut Beasiswa Pemuda Tangguh jika IPK Rendah

Kemudian mendorong optimalisasi aktivitas fisik untuk meningkatkan kesehatan peserta didik, serta berbagi praktik baik dalam menerapkan Kampanye Sekolah Sehat. Seminar ini menghadirkan berbagai narasumber, mulai dari PIC PDM 11 Kampanye Sekolah Sehat, Dr. Nia Nur Chasanah; Prodi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Surabaya, Cleonara Yanuar Dini, S.Gz., M.Sc., RD; serta Kepala SD Negeri Kaliasin 1 Surabaya Sastro, M.Pd. Seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari pengawas 62 orang dari 31 kecamatan di Kota Surabaya, dan guru sejumlah 138 orang. (Ra/Bagus, foto: Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed