Ekonomi Jawa Punya Ketahanan Tinggi, Berkontribusi 60 Persen

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur (KPw BI Jatim) Doddy Zulverdi menyebut bahwa perekonomian domestik masih stabil ditengah perekonomian global yang melambat. BI Jatim pun berupaya mengimbangi dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendongkrak ekonomi domestik kedepan semakin baik. Diketahui saat ini dampaknya yakni kenaikan suku bunga di domestik serta nilai tukar rupiah yang tertekan. “Alhamdulillah ekonomi domestik kita masih baik, ya. Mengapa? Ekonomi kita baik dibanding negara lain karena konsumsi rumah tangga dan investasi,” ungkapnya diwawancarai majalahnurani.com saat Bincang Bareng Media yang digelar di Ballroom Plataran Borobudur Hotel, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (16/11).

Dijelaskan bahwa Indonesia dampaknya relatif terbatas lantaran tekanan pelemahan rupiah. Tercatat pada Desember 2022 melemah 1,03 persen. Sementata di negara lain mencapai 33 persen. Doddy tak memungkiri bahwa kondisi ini tak bisa dihindari akibat dampak global. Namun jika dibanding negara lain, Indonesia masih lebih baik. “Jangan sampai investor terpengaruh kondisi global. Kita tunjukkan dampak global bisa diatasi,” sebutnya.

Baca juga  Dukung Pemerintah Wujudkan Keuangan Inklusif, GoPay Mencatat Laporan Keuangan Otomatis

Sementara ekonomi Jawa punya ketahanan tinggi berkontribusi 60 persen dari ekonomi nasional. Seperti ekspor di Jawa mengalami kenaikan 70 persen pada triwulan III dibanding triwulan II yang sedikit melemah. Dilengkapi dengan inflasi yang masih terkendali (masih rendah atau kisaran target). “Ekonomi Jawa masih melemah jika dibandingkan tahun lalu triwulan III, yakni 4,83 persen. Tapi ini masih dikatakan baik,” sambungnya.

Doddy menyambung, di Jatim angka inflasinya 4,86 persen. Angka tersebut ditopang oleh faktor rumah tangga, lapangan usaha, industri pengolahan dan pertanian yang positif, disertai kualitas kredit yang baik. Survei konsumen menyebut, di Jatim trennya menguat. Data per Agustus-Oktober terjadi peningkatan, untuk Agustus 131,02 persen, September 131,13 dan Oktober 139,06. Hal ini karena di-support dengan berbagai kebijakan dari BI. (Ra/Bagus, foto: Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed