Talkshow Festival SDGs, Unair Tekankan Penanganan Stunting

Universitas Airlangga (Unair) berkomitmen penuh dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya dengan menyelenggarakan Festival SDGs pada Senin (20/11/2021) hingga Rabu (22/11/2023) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C.

Salah satu rangkaian kegiatan menarik dalam festival tersebut adalah talkshow, sebuah gelar wicara yang mengusung tema “Transformative Policy Innovation for a healthy and sustainable Environment”. Turut hadir dalam acara tersebut, Retna Apsari selaku Pakar SDGs UNAIR.

Menelusuri SDGs UNAIR

Menurut Retna, UNAIR telah mengimplementasikan SDGs 1 hingga 17 dengan baik, terkhusus pada SDGs 1, 3, 5, 7, 8, 9, dan 13. Pendekatan untuk pembangunan berkelanjutan melalui peran perguruan tinggi dapat melalui peran pemerintah dan parlemen, akademisi dan pakar, organisasi masyarakat dan media, serta filantropi dan pelaku usaha.

Baca juga  BKKBN Gandeng Polda Jatim Tuntaskan Stunting

“Ini adalah saatnya kita untuk menyamakan frekuensi dengan bertindak secara bersama, bukan sendiri-sendiri. Saat ini masih terdapat problem kemiskinan yang harus diurai. Di antaranya adalah kemiskinan warga bukanlah komoditas untuk pencitraan. Solusi yang telah UNAIR lakukan adalah menghasilkan produk-produk untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, salah satunya produk penanganan stunting,” terang Retna.

Saat ini, dosen bersama dengan mahasiswa UNAIR telah meningkatkan berbagai penelitian, inovasi, dan pengembangan masyarakat. Prioritas bidang penelitian pada 2023 adalah blue economy, green economy, kesehatan, ekonomi digital, pariwisata dan konservasi, hingga keamanan pangan.

“UNAIR telah melakukan contoh dengan melakukan penelitian melalui pilot project, yaitu Remote Island di Madura, Border Island di Bintan, dan Coastal Area di Banyuwangi. Yang akan dikerjakan di Banyuwangi adalah mendeteksi pH ikan hingga mengeksplor pariwisata di sana. Semua fakultas akan terjun untuk melakukan project UNAIR,” ucapnya.

Baca juga  Banyak Anak Anak Cuci Darah, Apa Penyebabnya?

Sinergi dan Frekuensi

Solar Shelter Charging Station merupakan salah inovasi yang berperan dalam pilar SDGs 7 dan 9, sebagai sistem penyimpanan energi yang dapat digunakan untuk charging station bagi masyarakat pesisir di Pulau Gili Iyang. Perlu adanya sinergi antara mahasiswa, dosen, masyarakat, dan pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Perguruan tinggi memainkan peran vital dalam pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan kemitraan. Integrasi SDGs dalam kurikulum memperkaya kesadaran mahasiswa, mendorong tindakan positif, dan menciptakan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

“Ketika masyarakat menerima inovasi-inovasi kita, maka akan terdapat pertumbuhan ekonomi dan pemahaman terhadap teknologi bersih. Dengan demikian, ketika frekuensinya sama, maka akan terdapat pelipatan energi yang luar biasa,” tutup Retna pada akhir gelar wicara. (Ra/Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed