Pakar Unair: Kesejahteraan Guru Belum Merata

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Hal itu merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada para guru yang telah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kali ini, pada tahun 2023, berdasarkan Surat Edaran Kemendikbud Ristek, Hari Guru Nasional mengusung tema “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”.

Mengenai hal tersebut, pakar UNAIR Dr Listiyono Santoso SS MHum memberikan pendapat pada Jumat (24/11) di Fakultas Ilmu Budaya Unair. Dalam kesempatan itu, Listiyono mengatakan, peringatan Hari Guru Nasional merupakan bentuk apresiasi terhadap para guru.

“Peringatan Hari Guru Nasional merupakan bentuk apresiasi negara terhadap guru yang telah mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun sejatinya, guru tidak bisa dibayar oleh apapun,” tutur Listiyono.

Baca juga  Dispendik Surabaya Gencarkan Pembekalan Guru Siswa Inklusi

Listiyono menerangkan, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, merupakan kalimat kiasan yang bermakna guru tidak bisa dibayar oleh apapun. Hal tersebut, lanjutnya, bukan berarti tidak ada penghargaan apapun untuk guru.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa bukan berarti tidak ada penghargaan apapun untuk guru, tapi justru tidak ada penghargaan yang sepadan untuk membayar jasa guru,” terang Wakil Dekan bidang akademik, kemahasiswaan.

Listiyono melanjutkan, hal tersebut dikarenakan, guru sudah siap mewakafkan hidupnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga, lanjutnya, aspek material tidak bisa digunakan untuk mengukur kinerja guru.

Listiyono menjelaskan, saat ini terdapat berbagai permasalahan yang harus diselesaikan bersama. Salah satunya, lanjut Listiyono, adalah kesejahteraan guru yang masih dibawah kata sejahtera. Hal tersebut terjadi pada guru honorer yang masih banyak ada di negeri ini.

Baca juga  Pakar Ekonomi UNAIR: AI Ancam Stabilitas Ketenagakerjaan

“Guru honorer memiliki gaji yang jauh dibawah kata sejahtera. Hal itu menjadi persoalan, karena ketika masalah kebutuhan sehari-hari saja belum terpenuhi, maka dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa akan kurang maksimal,” tutur Listiyono.

Listiyono menambahkan, meskipun saat ini telah ada upaya dari pemerintah yaitu dengan adanya sertifikat guru, namun hal tersebut masih belum merata. Hal itu terjadi, lanjut Listiyono, karena sistem rekrutmen guru yang kurang optimal.

“Seharusnya pemerintah menjamin kesejahteraan semua guru bisa merata. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara, memperbaiki semua sistem dari dasar,” pungkasnya. (Ra/Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed