Tekanan Keluarga Semakin Berat, Kemenag Dorong Majelis Taklim Naik Kelas

Kementerian Agama RI mengingatkan bahwa ancaman terhadap keluarga Indonesia hari ini semakin berat. Ancaman tidak lagi hanya soal ekonomi, tetapi juga datang dari perubahan sosial dan derasnya arus digital yang perlahan menggerus relasi dalam rumah tangga.

Karena itu, majelis taklim didorong tidak sekadar menjadi ruang pengajian rutin, melainkan tampil sebagai pusat penguatan ketahanan keluarga dan benteng moral masyarakat.

Pesan itu disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M. Hanafi.

Menurut Muchlis, keluarga merupakan fondasi utama bangsa. Ketika keluarga melemah, berbagai persoalan sosial akan ikut bermunculan.

“Ketahanan bangsa sangat terkait dengan ketahanan keluarga. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kuat. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan mudah muncul,” kata Muchlis dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (24/5/2026).

Baca juga  Pentingnya Standar Pengawasan Syariah di Layanan Kurban Digital

Ia menyoroti fenomena keluarga modern yang kini menghadapi tekanan berlapis: komunikasi yang melemah akibat penggunaan gawai berlebihan, tekanan ekonomi, meningkatnya perceraian, hingga tantangan pengasuhan anak di era media sosial.

Dalam situasi itu, pendekatan administratif dan hukum dinilai tidak cukup. Penguatan nilai, moral, dan spiritualitas harus diperkuat melalui ruang-ruang keagamaan yang dekat dengan masyarakat. Karena itulah, kata Muchlis, majelis taklim harus mengalami transformasi peran.

“Majelis taklim harus naik kelas. Tidak hanya menjadi tempat belajar agama semata, tetapi juga menjadi pusat edukasi keluarga dan ruang konsultasi sosial-keagamaan,” ujarnya.

Menurutnya, dakwah hari ini tidak boleh berhenti pada ceramah normatif semata. Dakwah harus hadir menjawab problem nyata umat.

Baca juga  MUI Imbau Imam-Khatib Jumat dan Idul Adha Bacakan Doa Qunut Nazilah untuk Gaza

“Majelis taklim harus mampu menghadirkan Islam yang menenangkan, mempersatukan, dan memberi solusi. Dakwah hari ini harus kontekstual dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat,” katanya.

Muchlis menjelaskan, penguatan keluarga menjadi perhatian serius pemerintah di tengah munculnya gejala melemahnya ketahanan keluarga dan dekadensi moral di berbagai lapisan masyarakat.

Ia menyebut, tren menurunnya angka pernikahan serta meningkatnya gaya hidup enggan menikah yang terjadi di sejumlah negara maju menjadi alarm yang perlu diantisipasi sejak dini di Indonesia.

Arahan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menempatkan keluarga sebagai institusi penting dalam menjaga stabilitas sosial bangsa.

“Lembaga keagamaan dan sosial kemasyarakatan harus menjadi mitra strategis dalam menjaga ketahanan keluarga Indonesia,” ujar Muchlis menyampaikan pesan Menag. (Ym)

Baca juga  Prabowo Borong Dua Sapi Mojokerto untuk Idul Adha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *