Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Launching Buku Islam Syariat

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, secara resmi melaunching buku berjudul Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka).

Buku yang sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Mizan itu, kini diterbitkan kembali oleh Penerbit Suara Muhammadiyah. Launching secara simbolis ditandai dengan penyerahan buku dari Direktur Suara Muhammadiyah, Deni Asyari, MA kepada Haedar Nashir.

Menurut Haedar, buku tersebut merupakan hasil disertasinya selama menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 2006. Haedar yang saat itu juga Ketua PP Muhammadiyah periode Muktamar ke-45 di Malang, melakukan penelitian di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

“Memilih kuliah tapi juga mengurus Persyarikatan tidak mudah waktu itu. (Kuliah Doktoral) Diselesaikan 3 tahun 6 bulan dan cumlaude. Saya cuma ingin menjadi bagian dari semangat adik-adik di angkatan muda saat itu bahwa menjadi bagian dari pimpinan Persyarikatan harus tetap tidak boleh padam untuk studi dan kalau studi jangan bangga kalau lama dengan alasan pendalaman. Maka saya contohkan untuk studi cepat,” jelas Haedar dalam siaran pers Sabtu (29/10).

Haedar menyebut bahwa buku itu merekam fenomena pasca reformasi di mana semua gerakan dari komunisme, sekularisme, liberalisme, hingga Islamisme berlomba-lomba merebut ruang publik.

“Buku ini atau disertasi ini mengkaji berangkat dari realita setelah kita reformasi, itu banyak gerakan-gerakan, bukan hanya gerakan keagamaan—termasuk di kalangan Islam—bahkan gerakan sosial lainnya, yang bertumbuh begitu rupa bukan hanya di permukaan, tapi yang underground (yang dari bawah permukaan) yang di masa orde baru tiarap. Begitu reformasi, semuanya seperti banjir demokrasi,” ucapnya.

Gerakan Islam bari yang lahir pada masa itu disebutkan Haedar memiliki ciri berbeda dengan kelompok Islam Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan lain sebagainya karena bersifat politik, sangat militan dan ekstrim. Bahkan lebih keras dari gerakan Revivalisme Islam di masa lalu yang membawa narasi pemurnian Islam.

“Saya tentu tertarik ke situ, mengkaji gerakan-gerakan Islam yang begitu militan ingin kembali menghadirkan Islam yang menurut mereka itu kaffah. Tetapi coraknya berbeda dengan arus utama yang selama ini sudah hidup, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad dan seterusnya,” ujarnya. Bg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *