Muhammadiyah-BPKH Kolaborasi Dorong Gerakan Green Hajj untuk Selamatkan Lingkungan

Masalah lingkungan ini hampir merata dihadapi oleh seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, persoalan sampah menjadi momok menakutkan bagi kehidupan masa depan umat manusia. Maka perlu ada solusi nyata, salah satunya diselesaikan sejak dari sisi hulu.

Sisi hulu yang Anwar Abbas maksud adalah keluarga. Ketua PP Muhammadiyah berharap, persoalan sampah sudah bisa dikurangi pada tingkat keluarga.

“Masalah sampah sangat meresahkan. Kalau kita berbicara dari hulu, maka itu berarti dari rumah tangga. Salah satu yang terpikir oleh saya adalah, bagaimana sampah itu bisa diolah dengan bantuan bakteri sehingga bisa menjadi kompos,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (14/3/2026) di Jakarta.

Baca juga  PBNU Resmi Tetapkan Ponpes Tambak Beras jadi Lokasi Muktamar ke-35 NU

Narasi pengelolaan sampah ini menurutnya dapat diperkuat, salah satunya dengan menyusun panduan praktis untuk masyarakat dalam mengelola sampah secara sederhana di tingkat rumah tangga.

Keinginan tersebut salah satunya direalisasikan dengan kerja sama antara Badan Pengelolaan Dana Haji (BPKH) dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah melalui kampanye Green Hajj.

Gerakan bersama ini diapresiasi oleh Anggota BP BPKH, Harry Alexander. Program Green Hajj bertujuan membangun kesadaran lingkungan bagi jemaah haji, sehingga ibadah haji mereka berdampak pada perbaikan lingkungan.

Rencananya buku panduan yang diproduksi oleh MLH PP Muhammadiyah ini diterjemahkan ke bahasa Arab dan Inggris. Sehingga dapat dijadikan referensi oleh muslim secara global.

Baca juga  Menlu dan Pimpinan NU-Muhammadiyah Terbang ke Iran Beri Penghormatan Almarhum Ayatollah Khamenei

Dalam buku tersebut juga dijelaskan gerakan wakaf pohon produktif. Sehingga selain berdampak pada perbaikan lingkungan, pohon yang diwakafkan juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Pohon yang ditanam bisa berupa tanaman konservasi maupun tanaman budidaya. Misalnya kita membeli 100 hektar lahan yang ditanami kelapa, maka setiap bulan bisa menghasilkan sekitar 40 juta rupiah. Selain manfaat ekonomi, kita juga mendapatkan manfaat biodiversitas,” ujarnya.

Dia berharap sosialisasi program Green Hajj ini juga menyasar generasi Z dan milenial. Sebab kelompok umur ini saat ini tercatat sebanyak 25 persen sebagai pendaftar haji Indonesia. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *