Pakar mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Agung Dwi Wahyu Widodo, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Hantavirus.
Ia pun memberikan edukasi mengenai karakteristik virus ini serta langkah-langkah pencegahannya.
Agung menjelaskan, Hantavirus merupakan virus RNA yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus liar. Penularan utama pada manusia terjadi melalui proses menghirup udara yang sudah tercampur dengan partikel kotoran tikus, seperti air kencing, air liur, dan feses.
“Hantavirus merupakan virus RNA yang ditularkan melalui hewan pengerat (rodensia) seperti tikus liar. Penularan utama pada manusia terjadi melalui inhalasi aerosol dari urine, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi,” kata Agung, Kamis (14/5).
Agung menjelaskan infeksi ini dapat memicu dua manifestasi klinis yang mematikan, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
“Virus ini memiliki risiko fatalitas yang tinggi bila menginfeksi manusia,” ucapnya.
Meskipun demikian, kata Agung, risiko penyebarannya masih dapat ditekan. Caranya yakni dengan menjaga kebersihan sanitasi lingkungan. Ia mewanti-wanti agar masyarakat tidak meremehkan keberadaan sarang tikus di sekitar tempat tinggal.
“Meskipun penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan kunci utama memutus rantai penyebaran Hantavirus adalah pengendalian rodensia secara kritis serta penerapan Protokol Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
“Hal ini mencakup inspeksi rutin untuk menutup akses masuk tikus ke hunian maupun fasilitas kesehatan, serta disinfeksi lingkungan menggunakan klorin 0,1 persen pada area yang berisiko,” katanya.
Bagi tenaga kesehatan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai indikasi menjadi hal yang wajib saat menangani pasien suspek. Selain itu, edukasi kepada masyarakat dan keluarga pasien juga sangat krusial agar mereka menghindari paparan langsung dengan debu atau area yang telah terkontaminasi kotoran tikus,” tambahnya.
Agung mengatakan pihaknya akan terus proaktif melakukan surveilans dan pelaporan kasus demi mendeteksi gejala infeksi virus sejak dini. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak panik, sekaligus tetap waspada.
“Masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah dan segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam tinggi yang disertai riwayat kontak dengan area yang banyak terdapat aktivitas tikus,” ucapnya.
Sebelumnya, satu kasus positif Hantavirus dilaporkan terdeteksi di Jawa Timur. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr. Erwin Astha Triyono.
Erwin mengatakan, temuan itu sudah terdeteksi sejak beberapa bulan lalu atau tepatnya pada Januari 2026. Saat ini, pasien yang sempat dinyatakan positif Hantavirus tersebut pun sudah dinyatakan pulih.
“Kalau data dari Kemenkes ada satu pasien bulan Januari. Tapi pasiennya sudah baikan, sudah sembuh,” kata Erwin saat ditemui di RSIA IBI Surabaya, Rabu (13/5).
Erwin menjelaskan, temuan ini bermula dari pemeriksaan seorang pasien yang awalnya didiagnosis menderita Leptospirosis. Gejala yang dialami seperti demam dan kondisi tubuh yang menguning.
Namun atas arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sampel pasien itu kemudian dikirim ke laboratorium pusat untuk memastikan apakah terdapat infeksi Hantavirus.
“Sebetulnya pasien itu pasien terdiagnosis leptospira. Kemudian karena demam dan kuning, sama Menkes didorong untuk pemeriksaan Hantavirus. Dan ternyata positif,” ucapnya.
“Tapi sudah bagus sehingga sekarang sudah tidak ada kasus lagi laporan dari pusat. Dan itu kasusnya Januari 2026,” tambahnya.






