Unusa Gandeng KCGI Jepang untuk Transformasi Pendidikan Tinggi

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penguatan jejaring dan kolaborasi internasional. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi SDGs poin ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penjajakan kerja sama antara Unusa dan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang dalam pengembangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk transformasi pendidikan tinggi.
Keinginan kerja sama itu terungkap dalam kunjungan Prof Ananda Nepal saat memberikan kuliah tamu (guest lecture) bertema AI Architecture in Higher Education di Auditorium Unusa Lantai 9. Dalam pemaparannya, Prof Ananda Nepal menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi AI mulai mengubah sistem pendidikan tinggi di berbagai negara.
Salah satu konsep yang disampaikan adalah pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital atau independent study. Menurutnya, mahasiswa kini dapat memperoleh kompetensi dari berbagai platform pembelajaran global seperti Coursera dan edX maupun pelatihan industri profesional.
“Sertifikat digital tersebut nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI untuk memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi, serta relevansinya dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi,” ujarnya, Senin (18/5).
Ia menambahkan, setelah melalui verifikasi awal oleh AI, proses peninjauan akademik tetap dilakukan oleh fakultas dan dosen sebelum kredit atau SKS diberikan kepada mahasiswa.
“Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mahasiswa mendapatkan kredit akademik, tetapi menjadi lembaga yang mengakui kompetensi dari berbagai sumber pembelajaran,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Ananda Nepal juga memaparkan pemanfaatan AI dalam mengubah aktivitas akademik menjadi media publik berbasis digital. Aktivitas seperti kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dapat direkam dan diolah menjadi berbagai bentuk konten edukatif.
Menurutnya, data pembelajaran berupa video, audio, maupun transkrip dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan ringkasan materi, penerjemahan multibahasa, hingga pengelompokan informasi agar lebih mudah diakses masyarakat. “Hasilnya dapat dipublikasikan dalam bentuk podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang dapat dimanfaatkan lebih luas,” katanya.
Ia menilai konsep tersebut dapat mendorong perguruan tinggi menjadi pusat distribusi pengetahuan digital, tidak hanya sebagai tempat pembelajaran formal di ruang kelas.
Dalam sesi diskusi, Prof. Ananda Nepal juga menyampaikan sejumlah peluang kolaborasi antara KCGI dan Unusa, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, student and staff inbound, joint courses, hingga kolaborasi riset di bidang teknologi dan AI. “Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Unusa Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Menurutnya, kerja sama internasional harus berorientasi pada implementasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi sivitas akademika.
Ia berharap kolaborasi bersama KCGI Jepang dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen Unusa untuk mendalami bidang AI sekaligus memperkuat kompetensi global di era transformasi digital. Bagus

Baca juga  Haflatul Wada’ SMK YPM 7 Tarik Sidoarjo Jadi Ajang Pelepasan, Doa dan Penguatan Masa Depan Lulusan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *