Ratusan buruh atau Pekerja PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Mojokerto menggelar aksi demo di depan PT Pakerin di Desa Bangun Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto, Senin (26/3/2026).
Demo ini berawal dari ratusan buruh yang berusaha menyampaikan aspirasi di halaman pabrik, namun terhalang oleh dua kendaraan besar yang sengaja ditempatkan di gerbang pabrik. Buruh yang tidak bisa masuk terpaksa berkumpul di depan pabrik.
Buruh kemudian memblokade jalan dengan menempatkan mobil komando demo melintang tengah jalan. Kemacetan terjadi di jalan yang menghubungkan Krian-Mojosari hingga radius sekitar 2 km. Polisi mengatur lalu lintas dan melakukan pengalihan arus lalu lintas.
Eka Herawati, ketua Pimpinan Cabang FSPMI Kabupaten Mojokerto mengatakan aksi ini sebenarnya untuk mengamankan aset perusahaan karena ada informasi beberapa hari yang lalu bahwa mesin-mesin di pabrik ini mau dijual. Dan sekarang ini proses pemotongan atau mengeluarkan mesin yang akan dijual itu.
“Kenapa kami sampai aksi di sini?, karena kawan-kawan belum mendapatkan upah Januari sampai Maret, sehingga dalam kesempatan ini kami mengamankan aset itu karena kawan-kawan ini belum mendapatkan upahnya sehingga perusahaan tidak boleh mengeluarkan aset ini sebelum upah yang tiga bulan belum diberikan oleh perusahaan,” ujarnya.
Eka menyebut total tanggungan perusahaan untuk membayar upah dan pesangon itu mencapai Rp83 miliar.
Soal aksi blokade jalan, Eka menyebut sebenarnya pihaknya tidak memblokade jalan, namun akses ke Pakerin ini sudah ditutup oleh PT Pakerin sehingga mobil komando demo tidak bisa masuk area pabrik.
“Sebenarnya bukan keinginan kami untuk menutup jalan ini dan membuat macet, tetapi keterpaksaan inilah yang kami lakukan agar perusahaan segera membayar upah kami,” tegasnya.
Eka menambahkan, pihaknya juga masih menunggu hasil pertemuan kuasa hukum atau tim lobi dari serikat pekerja dengan Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal terkait persoalan PT Pakerin ini.
“Saat ini konsolidasi yang akan dilakukan adalah bagaimana Pakerin dengan ribuan karyawan harus terselamatkan nasibnya, tetapi kalau PT Pakerin ini tidak bisa selamatkan maka hak karyawan, baik upah maupun pesangon harus didahulukan,” tegasnya.
Eka menegaskan bahwa yang menutup akses ke pabrik bukan buruh, tetapi dari pihak PT Pakerin.
“Dari semalam perusahaan sendiri yang menutup akses dengan mendatangkan dua kendaraan, damkar dan truk, dan di mes tadi juga ada satu mobil yang menutup untuk akses keluar masuk,” terangnya.
Lebih lanjut Eka mengatakan, blokade ini sampai tuntutan kawan-kawan dikabulkan.
Dalam kesempatan ini belum ada pertanyaan dari pihak perusahaan terkait aksi demo tersebut.
“Kita sudah komunikasi tapi belum ada jawaban kapan kawan-kawan ini dibayar upahnya,” pungkasnya.
Aksi ini mendapatkan pengawalan ketat dari puluhan petugas kepolisian. (Ym)






