Press "Enter" to skip to content

Polemik Video UAS, Muhammadiyah : Tidak Berniat Menghina Agama lain

Video Ustadz Abdul Somad (UAS) viral tentang pengajian yang menjawab pertanyaan jamaah soal salib sudah menjadi polemik. Atas video tersebut, beberapa pihak kemudian melaporkan UAS ke polisi. Setidaknya ada empat pihak yang telah melaporkan UAS, yaitu Horas Bangso Batak (HBB), seorang dosen universitas swasta di Jakarta bernama Manotar Tampubolon, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Presidium Rakyat Menggugat (PRM). Terkait hal itu, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad berharap saling memaafkan dan tidak saling lapor polisi.

“Ya kita tidak usah membicarakan orang lain lah kita bicara tentang diri kita sendiri saja. Diperkuat kepercayaan pada tuhan masing-masing. Untuk itu ke depan supaya kita lebih menjaga kehati-hatian, kalau sekarang itu jamannya media sosial itu tidak ada yang tertutup,” katanya, Selasa (20/8).

Dia mengatakan dalam pengajuan tertutup, sebetulnya menjelaskan teologi berdasarkan rujukan kitab agama masing-masing. Namun, hal ini menjadi masalah karena video tersebut terekspos dan menyinggung orang lain.

Namun, Dadang mengatakan pelaporan Somad ke polisi bukan solusi. Dia yakin UAS tidak benar-benar berniat melakukan penghinaan terhadap agama lain.

Hingga kemudian ada juga pihak yang melaporkan balik kepada pihak yang mempolisikan UAS. Dadang melihat aksi saling lapor ini bukan solusi.

“Ini (ceramah UAS) tidak khusus. Kalau kita saling lapor, dampaknya bisa saling cari kesalahan. Ini bentuk intoleransi. Kalau ada kesalahan dari tokoh itu semestinya kita saling memaafkan. Saya yakin itu tidak sengaja,” kata Dadang.

Wapres Jusuf Kalla (JK) ikut mengomentari video UAS. JK meminta UAS mengklarifikasi ucapannya untuk mencegah melebarnya masalah. Dadang setuju dengan usulan JK. Namun, Dadang melihat masyarakat Indonesia akan mau memaafkan karena punya toleransi yang tinggi.

“Saya kira ada atau tidak ada penjelasan Ustaz Somad, bagi kita, orang beragama di Indonesia kan saling memaafkan adalah kebiasaan sejak dulu. Sekarang kenapa harus melalui hukum dan lainnya? Kedua, memang bagus saja kalau Ustaz Somad membuat klarifikasi untuk menjernihkan suasana,” ujarnya.

“(UAS) Perlu (minta maaf) kalau memang ada yang tersinggung, memohon maaf ini kan di kalangan terbatas. Tapi kalau orang baik, orang hebat, dia akan memaafkan tanpa ada lebih dulu permintaan maaf. Dan orang Indonesia kenapa sampai hari ini sangat damai? Karena toleransi, karena sikap memaafkan yang sudah dipunya sejak dulu,” pungkasnya. Yun

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *