Bismillah…
Saudaraku, dalam kehidupan sehari hari manusia kadang tidak lepas dari utang. Selama utang itu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, tentu hal ini sangat dimaklumi.
Namun saat ini kebanyakan kita berutang karena mengikuti gaya hidup. Utang bukan untuk kebutuhan makan keluarga, tetapi utang karena ingin memenuhi syahwat gaya hidup. Syahwat HP baru, motor baru, mobil baru, jam tangan baru, dan syahwat gaya hidup lainnya. Padahal HP, motor, mobil, jam tangan yang lama masih bisa dipakai dan tidak rusak. Bukankah ini adalah termasuk memenuhi gaya hidup? Akibatnya, banyak diantara kita terjebak dalam dunia utang dan riba.
PELAJARAN DARI CORONA
Nah yang menarik, sejak wabah corona merebak, manusia dibuat kalang kabut. Banyak manusia yang semakin hati hati dalam membelanjakan harta dan keuangannya. Meski sudah terlambat, karena cicilan sudah macet, pendapatan jauh berkurang bahkan banyak yang sudah tidak menerima gaji lagi, tetapi paling tidak, corona telah memberikan pelajaran berharga.
Pelajaran berharga bagaimana kita memanfaatkan keuangan dengan tidak mengedepankan gaya hidup. Sekarang semua orang sudah fokus bagaimana bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Jangankan motor, HP, sepatu atau baju baru, gaji saja belum tentu cukup untuk kebutuhan pokok keluarga sebulan. Belum lagi cicilan mobil, cicilan HP, cicilan rumah yang macet. Corona telah memberi pelajaran berharga bagi umat manusia bahwa gaya hidup utang itu membuat rapuh ketahanan ekonomi keluarga. Gaya hidup utang sangat berdampak kurang baik bagi kehidupan kita di dunia maupun akhirat.
RASULULLAH TAKUT UTANG
Utang terus menumpuk, karena setiap yang diinginkan tinggal nggesek kartu. Fasilitas utang semakin mudah, sehingga akhirnya utang menjadi semacam gaya hidup. Sampai ada istilah, “kalau bisa utang kenapa harus dilunasi”?, “Kalau bisa dicicil kenapa harus cash”?
Saudaraku, tahukah Anda bahwa Rasulullah junjungan dan panutan kita, sangat membenci utang? Rasulullah sangat takut berutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al Masiih Ad Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berutang.“ (HR Bukhari)
Mengapa rasulullah benci, takut dan berdoa berlindung dari utang? Hal ini bisa kita ketahui dari hadis beliau ketika ditanya tentang utang.
“Berkatalah seseorang kepada beliau:
مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟
“Betapa sering engkau berlindung dari utang?”
Beliau pun menjawab:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, dan jika dia berjanji maka dia mengingkarinya,” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari hasis di atas, ternyata rasulullah takut berutang karena dalam utang itu manusia biasanya akan terjebak dalam perbuatan dosa lanjutan yaitu berdusta dan mengingkari janji, dan itu adalah sifat orang munafik. Takut jatuh dan terpuruk dalam kemunafikan.
BAHAYA UTANG
Saudaraku, selain bisa membuat terpuruk dalam sifat munafik, utang juga mengandung banyak bahaya lain. Berikut bahaya utang menurut rasulullah.
1. Tidak dijamin masuk sorga.
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal, yaitu sombong, ghulul (khianat), dan utang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah)
2. Dihukumi pencuri
Orang yang berniat tidak melunasi utang akan dihukumi sebagai pencuri
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)
3. Dosa Uutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” (HR. Muslim )
4. Dilaknat Allah
Janganlah membiasakan diri untuk berutang. Terutama berutang yang mengandung riba. Karena pemakan riba dilaknat Allah.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda:
“Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, saksi dan juru tulisnya” (HR Ahmad )
Saudaraku, ternyata sangat mengerikan dampak dan bahayanya utang dalam kehidupn di dunia maupun di akhirat. Maka mari kita tinggalkan utang, dan hidup sesuai dengan kemampuan kita. Mari kita tanamkan moto,
” Kalau bisa lunas, mengapa harus utang?”, “Kalau tidak mampu, mengapa harus dibeli?”
Mari bergaya hidup sederhana seperti rasulullah, berdiri tegak di atas kaki sendiri tanpa utang dan riba.
Semoga bermanfaat…..
(Nur Cahya Hadi, Direktur Majalah Nurani Indonesia dan TL Mina Wisata Islami travel haji dan umrah)






