Oleh
Dr. Amirsyah Tambunan
Wakil sekjen MUI Pusat *)
Semua umat Islam berharap mampu meraih drajat taqwa. Untuk meraih drajat taqwa wajib membekali diri dengan kekuatan iman, sehingga mampu meraih taqwa. Sesuai pesan Allah QS Ali Imran 102:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Dalam konteks ini fondasi iman menjadi esensi yang mendasar, sehingga mewujudkan taqwa lebih mudah.
Taqwa dekat dengan keadilan sebagaimana firman Allah يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Untuk itu ibadah puasa semestinya dapat mewujudkan keadilan karena dekat dengan taqwa. Artinya dengan nilai nilai taqwa dapat mewujudkan keadilan untuk semua.
Mewujudkan keadilan dengan nilai nilai disiplin dan kejujuran. Ibadah puasa merupakan ibadah yang menanamkan nilai kejujuran dalam menegakkan keadilan. Luar biasa manfaat ibadah puasa mampun mewujudkan kesalehan sosial yang berasal dari kesalehan pribadi.
Jadi ibadah erat kaitannya dengan kesalehan sosial yakni kesalehan pribadi berasal dari nilai disiplin dalam dalam menenegakkan keadilan. Karena itu selama melaksanakan ibadah puasa sejak imsa’ hingga berbuka puasa secara serentak umat Islam dilatih berbuat disiplin. Agar disiplin menjadi kebiasaan (hebid), maka latihan selama satu bulan menjadi momentum bersama mewujudkan kesalehan sosial melalui amal zakat, infaq, dan sodaqoh.
Masalahnya apakah disiplin selama satu bulan mampu menegakkan keadilan untuk kesalehen sosial sosial? Hal ini tergantung pada kesadaran bersama (kolektif). Sebab manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan dalam mewujudkan kesalehan sosial.
Rasulullah SAW bersabda : Bila ada urusan ibadah yang tidak sempurna, atau batal, maka tebusannya (kifarat) harus berupa perbuatan yang berhubungan secara sosial (muamalah), antara lain :
Pertama, bila puasa (shaum) tidak mampu dilakukan karena alasan yang dapat dibenarkan (uzur syar’i) , maka yang bersangkutan wajib membayar fidyah, memberi makanan bagi orang miskin.
Kedua, begitu juga dengan ibadah haji, seseorang harus membayar dam, atau denda, jika tidak dalam melaksanakan sejumlah rukun haji.
Ketiga, seseorang yang mempunyai salah atas orang lain, harus meminta maaf kepada yang bersangkutan, sebelum mohon ampun kepada Allah. Keadaan ini tidak berlaku sebaliknya, artinya orang yang bermasalah dengan orang lain tidak dapat ditebus dengan menggantinya melalui kegiatan ritual, seperti melakukan dzikir, sholat atau puasa.
Keempat, ganjaran orang yang melakukan amal sholeh dalam urusan sosial (kemasyarakatan) jauh lebih besar dibandingkan dengan ibadah sunah. Misal, H.R. Bukhari dan Muslim menyebut : “Orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah pejuang di jalan Allah, (atau aku kira beliau berkata) dan seperti orang yang terus-menerus sholat malam dan terus-menerus puasa”.
Kelima, dalam H.R. Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Hibban : Maukah kamu aku beritahukan derajat apa yang lebih utama dari pada sholat, shiyam dan shodaqoh ? (sahabat menjawab : Tentu !). Yaitu, mendamaikan dua pihak yang bertengkar”.
Ditengah pandemi Covid 19 umat Islam mempunyai tantangan sekaligus peluang agar saling peduli antar sesama karena kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari seperti pekerja upah harian bagi ojol, supir taxi, buruh tani, dll.
Oleh karena itu ajaran Islam memerlukan tafsir sosial bagi seluruh dimensi sosial, sehingga fakta empiris sejalan dengan ibadah sosial bagi umat Islam guna mewujudkan kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Semoga dapat kita wujudkan dalam situasi pandemi Covid 19.
*) Bahan ceramah di ringkas dalam acara jelang Iftar 11 Ramadhan 1441 H keluarga besar ICMI dan Kahmi Kota Bogor






