India memasuki lockdown tahap 3. Sejak tanggal 3 sampai 17 Mei 2020. Artinya akan jadi 55 hari sejak awal 25 Mei, dan sangat ketat.
“One of the world’s strictest lockdowns”, karena praktis semua kegiatan berhenti dan tidak ada orang di jalan.
Kasus Positif Terus Meningkat
Lockdown pertama bermula 25 Maret, waktu itu jumlah kasus COVID-19 di India ada 606 orang. Lalu pada 14 April
kasusnya jadi 10.815 orang dan dilanjutkan lockdown tahap ke dua,2.0.
Nah, pada 3 Mei akhir lokcdown 2.0, jumlah kasus adalah 40.263. Kelihatannya memang meningkat terus, tapi keterangan yang di kutip di media (SCMP) menyebutkan “that the country’s “doubling rate” – the time it takes for the number of infections to double in size – had been increased from 3.4 days before the lockdown to almost 11 days now”.

Data lain menyebutkan bahwa pada 6 April “rate of doubling every six days”. Sementara pada 18 April berhasil memanjang menjadi 8 hari.
India sudah melakukan 1 juta test PCR pada 2 Mei 2020 75.000 test sehari pada 417 laboratorium. Dan hasilnya 39.980 positif.
Angka positif ini dinilai baik karena lebih rendah dari negara lain yang juga sudah melakukan 1 juta test. Spanyol misalnya yang positif adalah 200.194 kasus pada saat test mereka 1 juta orang dan di Amerika Serikat 164.620 kasus.
Kemudian diputuskan dilanjutkan lagi Lockdown 3.0 sampai 17 Mei. Bedanya, kalau lockdown 1.0 dan 2.0 benar-benar meminta semua 1,3 Milyar penduduk India “stay at home” seperti foto ini.
Maka pada lockdown 3.0 sudah ada pembagian zona seluas district. Bahasa Indonesianya kabupaten.
Tapi penduduk district di India bisa lebih besar dari propinsi Indonesia. Ada 130 zona merah (termasuk New Delhi, Mumbai, Kalkuta dan kota besar lainnya). Lalu 284 zona oranye dan 319 zona hijau.
Untuk yang hijau dan oranye ada beberapa kelonggaran. Taxi terbatas boleh beroperasi, bis ada yang boleh, bahkan tukang cukur ada yang buka juga.
Sementara rambut saya makin panjang dan di New Delhi tidak ada tukang cukur buka karena zone merah. Dan mulai ada yang beli cukuran listrik untuk mencukur sendiri, saya nggak berani, takut pitak tidak merata.
Kelonggaran Penjual Miras
Yang “unik” dan jadi berita utama adalah kelonggaran bahwa Liqueur Shop (penjual minuman keras) boleh buka, (hal ini sampai dibicarakan di tingkat Menteri) dan besoknya ribuan orang antri beli minuman keras sampai terjadi chaos.
“Unik”nya lagi, sekarang minuman keras di pajak tinggi, sampai 70 %.
Gambar di bawah hanyalah ketemu mobil Caravan yg rupanya juga ter “lockdown” di rumah tetangga, pas lewat waktu saya jalan ngabuburit sore hari kemarin.
Gambar di TV kita lihat foto Perdana Menteri India. “Unik”nya lagi, ternyata bahasa India (Hindi) untuk Perdana Menteri adalah “Perdana Menteri”, sama persis (saya tidak analisa bahasa mana yang asal mula nya).
*Tulisan ini dikirimkan langsung oleh Prof Tjandra Yoga Aditama,
Mantan DirJen P2P Kemenkes dan Mantan Kepala Balitbangkes, yang kini menjabat Direktur WHO SEARO Bidang Penanggulangan Penyakit Menular, kepada majalahnurani.com. Saat ini Prof Tjandra bertugas melakukan penelitian wabah Corona di India.01/bag












