Oleh:
Dr. Amirsyah Tambunan
Sekjen Asosiasi Dosen Indonesia
Salah satu kunci sukses pemutusan mata rantai Covid-19 adalah disiplin. Artinya patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
Untuk itu kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta harus di sikapi dengan memberikan keteladanan, bukan sikap pro kontra. Jika pro kontra masih mengemuka, maka yang terjadi peningkatan kasus Covid-19.
Seperti data pemerintah saat ini memperlihatkan bahwa penularan virus corona masih tinggi terjadi di masyarakat.
Akibat laju penularan virus corona belum dapat dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah. Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah hingga hari ini, Kamis (17/9/2020).
Bahkan, data memperlihatkan bahwa angka pasien Covid-19 dalam sehari bertambah dalam jumlah yang masih besar, di atas 3.000 orang.
Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Kamis pukul 12.00 WIB, ada 3.635 kasus baru Covid-19. Dalam konteks ini
Majelis Ulama Indonsia (MUI) melakukan dialog pada tanggal 15 September 2020 menyikapi masih tingginya penyebaran Covid 19.
Hadir Dewan Pimpinan Harian MUI Pusat antara lain sekjen MUI Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum KH. Muhyiddin Junaidi, Yusnar Yusuf, Abdullah Jaidi, dll. Juga hadir Ketua dan sekretaris MUI Provinsi se Indonesia sejumlah 50 orang peserta.
Diskusi dengan menghadirkan Ahli Epidemiologi Penyebaran Penyakit Disebabkan oleh Virus serta Klinis, dari Universitas Indonesia (UI) disampaikan oleh Dr. Pandu Rianto dan Dr. Tifauzia Tyassuma.
Tifauziyah mengutip pesan Rasulullah artinya kalau ada wabah harus menutup diri (lock down). Kita wajib yakin terhadap perihtah Rasulullah untuk tetap di rumah selama wabah Covid-19.
عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد
“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).
Secara umum hadis ini menjelaskan upaya-upaya lahir dan batin ketika muncul wabah penyakit seperti Covid-19 yang telah mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kalimat tha’un adalah “azab yang Allah” menunjukkan bahwa wabah penyakit yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW hingga saat ini bukanlah azab tetapi ujian atau cobaan yang Allah timpakan kepada orang-orang yang beriman. Maka kita tidak pantas menuduh orang yang terkena pandemi Covid-19 sebagai orang yang terkena azab. Tak seorangpun yang mampu menghindari dari wabah penyakit jika Allah telah taqdirkan, dan wabah tidak akan menimpa orang yang Allah SWT lindungi. Sebaliknya, wabah tersebut dijadikan sebagai rahmat bagi orang-orang yang senantiasa menyakini bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini melainkan atas pengaturan Dzat Yang Maha mengatur.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW memberikan tuntunan saat wabah, antara lain: pertama tidak Keluar Rumah. “kemudian ia menahan diri di rumah” merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika merebak wabah penyakit. Selogan (stay at home) merupakan salah satu metode memutus penyebaran wabah Covid-19, karena jika kerumunan masyarakat tidak dibatasi, niscaya penyebaran Covid-19.
Selanjutnya kisah Ashabul Kahfi merupakan salah kisah menakjubkan yang terjadi pada masa lalu sebelum zaman Nabi Muhammad SAW.Ashabul Kahfi adalah kisah tujuh pemuda yang tertidur di dalam gua selama 309 tahun. Di mana mereka bersembunyi di dalam gua untuk melarikan diri dari kekejaman Raja Decyanus untuk mempertahankan keimanannya. Ini perlu menjadi ibrah untuk memperkuat spriual umat Islam saat ini agar berdiam diri dirumah. Kisah pemuda tersebut tertera dalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 9-26.
ANTISIPASI COVID-19
Catatan penting Dr. Pandu sebagai ahli epidemologi mengatakan sejak awal sudah memprediksi akan masuk wabah Covid-19 ke Indonesia karena Indonesia Negara yang terbuka. Namun disayangkan kebijakan negara lambat mengantisipasi. Lebih jauh beliau menjelaskan sebanarnya tidak sulit memahami virus, jika kita tidak ada konflik kepentingan. Sebaliknya jadi sulit ketika virus sudah mewabah, karena kebijakan pemerintah belum kompak.
Saat ini perkembangan Covid-19 bagaikan fenomena gunung es. Kematian yang di laporkan itu kecil, padahal yang menjad korban lebih banyak.
Dalam teori virus sangat sederhana, ibarat musuh terus berubah, maka pertahanan tubuh kita akan sulit (daya immun). Saat ini sebagian besar tidak bergejala seperti orang tanpa gejala (OTG). Gejala awal OTG tidak bisa mencium bau, kondisi tubuh lemah, sehingga kehilangan imun tubuh. Untuk perlu di lakukan antisipasi yang dapat memutus mata rantai perkembangan virus Covid 19.
KEBIJAKAN TEGAS
Dalam mengantisipasi perkembangan virus Covid-19 diperlukan kebijakan pemerintahan yang komprehensif dan integral agar tidak terulang kealpaan. Di antara kealpaan PSBB tidak dipahami. Mestinya kebijakan PSBB mengentikan manusia sementar agar tidak berkerukun di pasar, berkumpul, beribadah. Sejak awal kita hanya butuh disiplin, bukan butuh vaksin. Contoh kita memperingati kemerdekaan ke 75 tapi belum merdeka dari Virus Covid -19. Lihatlah hingga saat ini 115 doktet wafat, prediksi kedepan akan meningkat jika kita tidak disiplin. Ada 3 skenario; diantaranya skenario terburuk misalnya harus cepat memprediksi maka bisa menekan angka virus Covid- 19.
Muhammadiyah misalnya minta saran kepada saya untuk menunda Muktamar Muhammadiyah karena melibatkan peserta ribuan orang. Jika angka belum landai, maka tahun depan mulai kita atasi dengan usaha luar biasa, ketekunan, sosialisasi, edukasi harus terus menerus. Sekarang PSBB kita ketatkan kembali untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Bagi kita nyawa manusia lebih penting kita selamatkan, karena nyawa tidak bisa kita hidupkan, sementara ekonomi bisa kita hidupkan kembali.
Dalam melihat perkembangan virus UI kerjasama dengan face book melihat pergerakan penduduk. Makin banyak penduduk bergerak maka virus semakin meningkat. Contoh 23, 4 % penduduk Kota Tangerang terinfeksi. Terdapat sekitar 73 % belum terinfeksi. Perlu survailen dgn pelacakan terinveksi dengan data pergerakan manusia. Misalnya terdapat 85 % melakukan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) hasil survey menunjukkan bisa menekan angka penyebaran virus covid 19. Contoh lagi waktu kita bicara keluar dorplet bdari yg terinfeksi bisa menular kepihak lain.Tapi dengan pakai masker secara efektif dapat mencegah.
Dalam sejarah Pandemi mematikan 1/3 penduduk dunia. Untuk itu MUI membuat Rekomendasi kepada pemerintah, pertama, kepada Presiden dengan kebijakan yang tegas, komprehensif, sehingga pelaksanaannya harus memperkuat disiplin masyarakat dan keteladanan pemerintah (Community discipline and the role model of officials are the keys to successfully preventing Covid 19). Kalau masyarakat tidak di edukasi ulama, maka sebaik apapun kebijakan tidak akan sukses mencegah Covid -19. Semoga Indonesia segera bebas dari Covid -19.
- ) Wakil sekjen MUI Pusat






