by

Ketika Rasulullah Mencium Tangan Tukang Batu

Bismillah….
Saudaraku, rasulullah itu tangguh dan sangat menjunjung tinggi dan menghargai kerja keras serta kerja profesinal umatnya.
Bahkan Rasulullah pernah mencium tangan kuli batu karena menghargai kerja kerasnya.
Kisahnya, saat mendekati Kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan seorang tukang batu.
Ketika itu Rasulullah melihat tangan tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Rasulullahbertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
“Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar,” jawab si kuli batu.
Rasulullah adalah manusia paling mulia. Tetapi ketika melihat tangan si kuli batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulullah pun menggenggam tangan itu.
Beliau menciumnya seraya bersabda, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya”.
Rasulullah tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, tangan para pemimpin kabilah, raja atau siapa pun.
Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az-Zahra dan tukang batu itulah yang tangannya pernah dicium Rasulullah.
Apa yang dilakukan Rasulullah di atas adalah sebagai bentuk penghormatan betapa Islam sangat menghargai kemandirian dan mencela perbuatan meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

ANJURAN KERJA KERAS
Profesi tukang batu dengan segala faktor kesulitan, kerendahan perolehan hasilnya lebih baik daripada menganggur dan menjadi beban orang lain. Rasulullah sangat mengecam umatnya yang malas bekerja. Dalam sebuah haditsnya ditegaskan, “Yang sangat menakutkan atas umatku adalah banyak makan, lama tidur, serta malas. Pengangguran hanya akan menjadikan seorang manusia menjadi keras hati. ” (HR At-Tirmidzi)
Sebaliknya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan profesional. Sebagaimana disebut dalam hadisnya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
Artinya:
Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, Baihaqi).
Dalam hadist lain juga ditegaskan:
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil keterampilan tangannya sendiri. “(HR Burhari).

RASULULLAH PROFESIONAL
Rasulullah sendiri dikenal sebagai pekerja keras dan sangat profesional dalam segala bidang yang ditekuninya. Namanya sudah dikenal sebagai seorang saudagar sejak usia muda. Rasulullah saat baru berusia 12 tahun, sudah melakukan perjalanan ke Suriah bersama pamannya, Abu Thalib.
Dari berbagai perjalanan perniagaan yang dilakukan, Nabi berhasil membina dirinya sebagai pedagang profesional, yang memiliki reputasi dan Integritas yang luar biasa. Ia berhasil mengukir namanya dikalangan kaum Quraisy pada umumnya dan masyarakat bisnis pada khususnya. Ia saat itu biasa disapa dengan sebutan Assiddiq (jujur) dan Al Amin (terpercaya).
Kepada yang memberi kepercayaan, tak sepeserpun uang digelapkan dan tidak sesenpun yang di-mark up. Dengan prinsip ini, Nabi mendapatkan keuntungan yang melebihi dugaan. Di sini, Nabi telah menunjukkan bagaimana caranya dengan tetap berpegang pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah mewujudkan kemakmuran.

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

RASULULLAH
CERDAS & KREATIF
Pada saat Pandemi seperti sekarang ini, kerja keras, cerdas dan kreatif sangat dibutuhkan. Bahkan Rasulullah sosok pimpinan yang cerdas dan kreatif. Keberhasilan Rasulullah SAW menyelesaikan sengketa pemindahan Hajar Aswad yang saat itu hampir menyebabkan pertumpahan darah antarkaum adalah salah satu bentuk pemikiran yang kreatif.
Rasulullah SAW membentangkan surbannya, menaruh Hajar Aswad diatasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk memindahkan Hajar Aswad bersama-sama.
Nah inilah salah satu contoh kreativitas dan kecerdasan rasulullah.
Saat wabah seperti sekarang ini, justru ini menjadi kesempatan bagi kita agar tetap bisa kerja keras, cerdas dan kreatif. Ibarat Permata, tak bisa dipoles tanpa gesekan. Demikian juga manusia tak bisa sempurna tanpa ujian.
Artinya, ujian ini merupakan sebuah proses kita menuju kesempurnaan, layaknya gesekan yang dilakukan pada permata agar permata itu bisa menjadi permata yang indah.
Untuk menyiasati perubahan kondisi saat pandemi perlu mengeksplorasi cara-cara baru yang selama ini tidak kita lakukan atau istilah berpikir out of the box yaitu harus dapat memainkan imajinasi dan keluar dari zona nyaman untuk menghasilkan ide-ide yang brilian.
Ide Rasulullah memindahkan hajar Aswad dengan meletakkan di tengah serban dan diangkat bersama sama adalah ide brilian yang tidak terpikir oleh kebanyakan orang.
Mari tetap bekerja keras dan ikhlas, nanti Allah dan rasulnya yang akan menilai kita.
Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah : 105)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan rezki yang halal dan berkah dari hasil kerja keras dan cerdas kita semua, serta menolong kita untuk selalu istiqamah di atas petunjuk-Nya sampai di akhir hayat kita, Aamiin.

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

Semoga bermanfaat,
Surabaya 29 Juli 2021.
Nur Cahya Hadi, Direktur majlahnurani.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed