Bismillahirrohmanirrohim
Saudaraku….semua orang pasti memiliki cinta. Cinta pada pasangannya, cinta pada anaknya, saudaranya, orang tuanya bahkan juga cinta pada harta dan jabatannya.
Secinta apapun kita kepada sesuatu, jangan sampai cinta itu berubah menjadi kesyirikan. Jangan sampai cinta itu menjerumuskan kita ke dalam api neraka.
Bagaimana bisa?
SYIRIK CINTA
Bukankah syirik yang pertama kali muncul di dunia adalah syirik cinta?
Di zaman Nabi Nuh, mereka sangat mencintai para wali yang kemudian akhirnya para wali ketika telah meninggal dunia dibikinlah monumen-monumen dan gambar-gambar dalam rangka untuk lebih memotivasi ibadah. Tapi kemudian lama-kelamaan berubah menjadi penyembahan.
Makanya kata para ulama, cinta bisa berubah menjadi ibadah ketika disertai dengan pengagungan dan ketundukan kepada yang dicintai.
Kalau sudah sampai pada derajat tersebut, kita sudah mengambil tandingan selain Allah. Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّـهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّـهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّـهِ
“Dan diantara manusia ada yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintai tandingan tersebut seperti mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah 165)
Subhanallah.. Inilah cinta yang terlarang, bahkan terlaknat. Bisa menyebabkan pelakunya apabila ia meninggal dunia, kekal dalam api neraka. Karena ia telah mempersekutukan Allah SWT.
MUSIBAH BESAR
Akan menjadi musibah besar ketika cinta menyebabkan kita lebih mendahulukan yang kita cintai daripada perintah Allah dan RasulNya Musibah besar, ketika kita lebih mencintai pekerjaan, mainan atau kesibukan lain dari pada panggilan Allah. Terdengar adzan kita tidak pedulikan sama sekali, bahkan asyik dengan kesibukan dan permainan dunia. Sehingga akhirnya saudaraku, cinta itu hakikatnya malapetaka untuk hidup kita.
Padahal Allah sudah mengingatkan bahwa kita boleh menyintai sesuatu tetapi cinta itu tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan rasulnya.
قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah 9: 24)
MANISNYA IMAN
Allah juga sudah mengingatkan bahwa jangan sampai harta, anak dan pekerjaan kita, menjadikan kita cinta buta dan melalaikan ibadah. Kalau itu kita lakukan maka kita termasuk orang yang rugi.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al Munafiqun ayat 9)
Rasa cinta itu, sesungguhnya takkan pernah terjadi kalau bukan karena rahmat Allah SWT. Karena itu barangsiapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dijalan Allah niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Sebagaimana Sabda Rasulullah:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dari Anas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari Muslim)
Semoga bermanfaat…
Surabaya, Senin 27 September 2021
nchnurani@gmail.com






