Bismillah…
Saudaraku, perintah shalat pada hakekatnya adalah dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
” Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha 14).
Jadi diperintahkannya shalat dalam rangka agar kita semua dekat dengan Allah, dalam rangka mengingat Allah. Karena pada dasarnya kalau kita ingat kepada Allah maka Allah juga akan mengingat kita. Kalau saling mengingat, berarti ada kedekatan antara kita dengan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 152:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ.
“Karena itu, ingatlah kalian kepadaKu niscaya Aku ingat juga kepada kalian. Dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian mengingkariKu.”
MERASA SHALAT
Namun aneh, belakangan banyak orang melakukan shalat tetapi tidak semakin dekat kepada Allah, justru semakin jauh dari Allah. Melakukan shalat tetapi amalan yang dilakukan bukan yang diridhoi Allah tetapi justru banyak melakukan amalan yang dimurkai dan dilaknat oleh Allah. Melakukan shalat tapi berzina, melakukan shalat tapi korupsi, melakukan shalat tapi gemar ghibah, melakukan shalat tapi tetap maksiat. Ternyata kondisi seperti ini sudah diprediksi oleh Rasulullah. Rasulullah SAW pernah bersabda: ”Akan datang pada manusia (umat Muhammad) suatu zaman, banyak orang yang merasakan dirinya shalat, padahal mereka sebenarnya tidak shalat.” (HR Ahmad).
Mengapa merasakan shalat tetapi pada hakekatnya tidak shalat?
Dikatakan dalam surah An-Nisa’ 43 bahwa hendaknya kita shalat dalam keadaaan sadar sampai kita tahu apa yang kita ucapkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan…..”
Shalat tetapi hakekatnya tidak shalat karena dalam mengerjakan shalat, kita lalai. Yang dimaksud lalai adalah kita tidak mengetahui maksud apa yang dibaca dan apa yang dikerjakan. Maka, yang diperoleh hanyalah payah dan letih. Rasulullah menyatakan, ”Berapa banyak orang yang shalat (malam), keuntungan yang diperoleh hanyalah payah dan letih.” (HR Ibnu Majah).
JAUH DARI ALLAH
Jadi, meskipun merasa dirinya shalat, tapi hakikatnya tidak shalat. Dan, ia tidak akan mendapatkan hikmah shalat. Shalatnya pun tidak menambah dekat kepada Allah, tapi justru sebaliknya. Jadi shalatnya tidak berdampak positif kepada yang melakukan. Rasulullah menegaskan, ”Barang siapa yang shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka tiada bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah.” (HR Ali Ibnu Ma’bad).
Nah, zaman yang diprediksikan Rasulullah tadi tampaknya sudah terjadi sekarang. Isyaratnya, meskipun bangsa Indonesia mayoritas Muslim dan tentu saja banyak yang shalat, tapi tak sedikit pula di antara mereka yang masih tetap melakukan perbuatan keji dan munkar. Ironisnya, dari hari ke hari frekwensinya tidak semakin menurun, bahkan dari segi kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat, seperti tindak KKN, perzinahan, dan kejahatan lainnya.
Padahal, jika shalat bisa dikerjakan dengan baik dan benar, dengan memperhatikan syarat rukunnya, sah batalnya, dan kesunahannya, maka hikmahnya sangat besar, baik dalam kehidupan individu maupun masyarakat.
Rasulullah mengumpamakan orang yang mengerjakan shalat lima kali sehari semalam itu seperti orang yang mandi untuk membersihkan kotoran yang ada di badan.
Kata Rasulullah, ”Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan rumahmu, lantas kamu mandi di situ sehari lima kali, apa masih kotor badanmu?” Para sahabat menjawab, tidak ada kotorannya sama sekali. Kemudian beliau bersabda, ”Maka, seperti itu juga shalat lima waktu, maka Allah akan menghapus dosa-dosa dengan shalat.” (Bukhari-Muslim).
Semoga shalat kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah dan menjauhkan kita dari perbuatan maksiat.
Semoga bermanfaat…
Nur Cahya Hadi, Direktur Majalahnurani.com






