Upaya pemberantasan praktik prostitusi berkedok warung kopi di desa awang-awang Kecamatan Mojosari menjadi salah satu prioritas Satpol PP di tahun 2022 ini. Selain itu, penertiban PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) di simpang empat Jalan RA Basuni Sooko juga menjadi atensi. Dua hal itu disampaikan oleh Kepala Satpol PP Kabupaten Mojokerto Eddy Taufik dalam Forum Diskusi Grup (FGD) dengan rekan media yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto, Jumat (25/2).
Kegiatan yang digelar di kantor Satpol PP Kabupaten Mojokerto tersebut berlangsung dinamis dan penuh keakraban. Dalam kesempatan itu Eddy Taufik menyebut pertemuan dengan dengan PWI ini merupakan rangkaian ulang tahun Satpol PP yang jatuh pada 3 Maret.
“Ke depan kami berharap bisa bersinergi dengan insan pers, sambung rasa, sambung silaturahmi dalam tugas-tugas kami sebagai Satpol PP dalam menegakkan Perda (peraturan Daerah) dan Perkada (Peraturan Kepala Daerah) Kabupaten Mojokerto,” ujar Eddy yang didampingi oleh Sekretaris, Kasi Trantib, Kasi PPUD dan beberapa pejabat di lingkungan Satpol PP Kabupaten Mojokerto.
Dalam pertemuan itu Satpol PP memperkenalkan tagline baru yang menjadi penyemangat, yakni Humanis Tegas Berwibawa (Mantab). Secara garis besar tujuannya untuk menjadikan Satpol PP yang dicintai oleh masyarakat, bukan Satpol PP yang dikonotasikan sebagai musuhnya para PKL.
Masih kata Eddy Taufik, setelah dilantik sebagai Kasatpol PP Kabupaten pihaknya di tahun 2022 ini punya dua prioritas, yaitu membebaskan desa awang awang di kecamatan Mojosari dari prostitusi terselubung, dan membebaskan simpang 4 jalan RA Basuni Sooko dari PMKS.
“Untuk Awang-Awang , warung-warung di sana dipakai memfasilitasi prostitusi dan itu telah ada sudah 38 tahun yang lalu. ini sudah waktunya membebaskan itu,” tegas Eddy.
Diuraikannya lebih lanjut, lahan di lokasi tersebut adalah milik warga Mojokerto yang disewa oleh orang lain untuk didirikan warung kopi. Namun ternyata warung itu didesain dengan bilik-bilik dan difasilitasi para PSK (Pekerja Seks Komersial) dari Tretes.
Beebagai upaya penertiban sudah sering dilakukan sebelum kepemimpinan Eddy Taufik. Antara lain patrol dan Razia. Namun ternyata tidak menyelsaikan masalah hingga berlarut-larut selama 38 tahun.
“Pernah mengadakan razia, ditangkap, dicoba dites dengan Dinas Kesehatan ternyata dari 9 orang (yang ditangkap) 6 orang positif HIV. Bahkan pernah ada yang meninggal dunia karena over dosis. Saya betul-betul getol, terakhir kami ke sana kami segel, sampai sekarang segel itu masih terpasang dan kita monitoring terus. Kami koordinasi dengan PLN supaya yang mencuri Listrik diputus,” tegasnya.
Tentang PMKS di simpang empat Sooko, Saat ini didirikan pos pantau di lokasi tersebut untuk mempersempit gerak para PMKS.
“Kita fokuskan dulu di simpang empat Sooko, supaya fokus kita dirikan pos di sana,” terangnya.
Sementara Sholahudin Ketua PWI Mojokerto menyambut baik pertemuan tersebut. Ada beberapa masukan terkait penegakan Perda di Kabupaten Mojokerto yang disampaikan oleh belasan jurnalis yang hadir, baik media online, cetak maupun televisi. Jurnalis MNC Group tersebut juga menekankan pentingnya sinergi antara Satpol PP dengan Media.
“Nanti Kita bergerak bersama sama, teman-teman ini lebih senang diajak ke lapangan, apalagi kita semua tahu kalau untuk penanganan perempuan dan anak-anak bupati Mojokerto sangat menjadi atensi oleh beliau,” ujarnya. Ym






