by

Fakta Baru Temuan KNKT Soal Kecelakaan Bus di Tol Sumo yang Tewaskan 14 Orang

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turun tangan melakukan investigasi perihal kecelakaan maut Bus Pariwisata PO Ardiansyah di Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) pada Selasa (17/5/2022). Dalam peristiwa nahas tersebut, 14 orang meninggal dunia, sedangkan puluhan [enumpang lainnya menderita luka berat dan ringan.


Ada sejumlah fakta yang diungkap KNKT dari musibah tersebut. Ahmad Wildan, Ketua Sub Komite LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan) KNKT mengatakan, salah satu temuannya adalah terkait Passiv Safety atau bahaya sisi jalan. Disebutnya bahwa keberadaan tiang beton VMS (Variable Message Sign), turut dalam meningkatkan fatalitas kecelakaan.

“Sebenarnya ini yang harus kita tata ulang, VMS ini yang bahaya, terlalu kokoh itu tidak boleh ada (di sisi jalan), semua benda di pinggir jalan itu didesain sekali tabrak roboh, jangan sampai ditabrak kemudian kendaraannya malah hancur, ini tidak boleh,” katanya kepada awak media, Rabu (18/5/2022) di Mapolresta Mojokerto.

Baca juga  Satu Dekade Rijalul Ansor, Wabup Mojokerto Gus Barra Minta Generasi NU Tangkal Radikalisme

Ditambahkan Wildan, sebenarnya jalan tol merupakan jalan yang paling aman. Namun masalahnya keberadaan tiang beton penunjuk jalan ini tidak terindikasi sebelumnya bahwa itu berbahaya. Berbeda dengan ketentuan soal sabuk pengaman yang sudah ada aturannya.

“ini temuan-temuan kita, Kita akan minta kepada pemerintah dalam hal ini kementerian Perhubungan membuat manual peraturan menteri yang mengatur bangunan-banguan di pingir jalan yang berbahaya, pokoknya bangunan yang dipinggir jalan itu harus diatur,” imbuhnya.

Fakta lain yang diungkap Wildan adalah soal pengemudi bus yang ternyata seorang kenek atau bukan sopir utama. Dirinya menyebut sang sopir tidak hanya mengantuk atau Mikro Sleep, namun sudah kategori tertidur pulas. Terbukti hasil investigasi yang dilakukan tidak ditemukan jejak pengereman di lokasi kejadian.

Baca juga  Update Corona 28 Juli 2022: Kasus Baru 2.167, Kematian 2 Orang

“Ini sebuah sistem keselamatan yang perlu kita benahi, untuk bus pariwisata pembinaan dan pengawasannya perlu ditingkatkan lagi, karena kasus seperti ini banyak terjadi. Mereka bisa beroperasi kemana saja, mereka bisa beroperasi dalam waktu yang terbatas. Dalam kasus ini Bus berangkat (dari Surabaya menuju Dieng Jawa Tengah) Sabtu malam sampai pulang senin pagi. Ini yang terjadi pengemudinya capek, ketika orang capek maka performnya menurun, memang tidak ada jejak pengereman,” imbuhnya.

Bahkan Wildan berani mengatakan bahwa sang sopir tidak hanya mengantuk, namun dia mengemudi dalam keadaan tidur kategori pulas. Sehingga pada saat menabrak sisi jalan itu sopir tidak terasa.


“Ini benar-benar pulas. Nanti KNKT akan membuat rekomendasi terkait mencegah kecelakan ini terkadi kembal, menata bagaimana wisata kita bisa tetap ada keselamatan,” pungkasnya. Ym

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed