Smamda Surabaya Gelar Workshop Strategi Industri Pasca Pandemi

Pandemi Covid-19 di Indonesia berakhir. Industri di Indonesia perlahan mulai bangkit. Sektor food and beverage pun mulai tumbuh. Namun juga tidak sedikit yang belum bisa pulih. Pertanyaanya, strategi apa yang dibutuhkan pasca pandemi untuk kembali meningkatkan ekonomi? Inilah yang dibahas dalam Workshop Strategi Indonesia Food & Beverage Pasca Pandemi di Tower SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Sabtu (25/2).

Diketahui workshop ini digelar Ikatan Alumni Smamda Surabaya  Bussines Academy atau disebut IKASmamda. Mulai dari pemateri hingga pesertanya merupakan alumni dari Smamda Surabaya.

Wakil Kepala Smamda Rr Tanti Puspitorini SS mengaku bahwa pihaknya mengundang kembali para almuni. Di kegiatan pagi itu, alumni yang juga sebagai narasumber adalah mereka yang sukses dalam bisnis.

Baca juga  440 Titik Genangan Tuntas, Pemkot Target Tangani 120 Lokasi Lain

Diantaranya, Raditya Saksono founder Chimney Indonesia  alumni 2008. Kemudian Alim Rahmat owner Mie Ayam Rock n Roll Surabaya alumni 2008 dan Vionica Jattu HR Officer Depot Gang Jangkrik alumni 2009.

“Harapannya ketika alumni sukses dalam bisnis, bisa sharing untuk alumni atau siswa Smamda,” ungkap Tanti.

Menurutnya, di bisnis akademi ini, semua alumni bisa saling mempromokan produk dan jasanya. Lebih dari itu, kedepan bisnis akademi ini juga bisa dibuka umum.

“Kalau jadi pebisnis itu kan, bisa membuka lapangan kerja dan menghidupi orang lain. Nah, Smamda ingin alumninya bisa berbisnis. Smamda ingin kedepannya banyak almuni bergabung  dan mengikuti progam bisnis akademi. Sehingga alumni yang sudah sukses itu bisa mengawal alumni yang baru memulainya. Pengawalan dari awal membuka  hingga akhir,” harapnya.

Baca juga  Baru Jabat 3 Bulan, Dirut PT Pos Indonesia Daud Joseph Akhirnya Mundur

Raditya sebagai narasumber pagi itu berbagi tips yang menurutnya penting dilakukan seorang pebisnis. Apa? Yakni strategi branding dan kolaborasi.

“Jadi branding itu bukan soal logo. Tapi ceritanya. Image, identitas dari bisnis itu sendiri. Kemudian 2023 itu eranya kolaborasi. Bahwa semua pebisnis itu perlu berkolaborasi. Dengan grup musik  dengan komunitas atau pebisnis lainnya,” terangnya. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *