Lailatul Qadar adalah malam dimana Allah SWT melipatgandakan pahala amal ibadah para hamba-Nya setara dengan 1.000 bulan atau kurang lebih setara dengan 83 tahun.
Sehingga tidak heran jika umat Islam memburu dan memperbanyak amalan pada malam tersebut.
Terkait kapan terjadinya malam tersebut, mayoritas ulama menyepakati bahwa Lailatul Qadar itu diperkirakan terjadi pada 10 terakhir bulan Ramadan.
Kepala Bidang Ibadah dan Dakwah sekaligus Imam Besar Masjid Al-Akbar Surabaya, H.M Abdul Choliq Idris, M Ag menjelaskan, asal mula adanya Lailatul Qadar ini berawal dari Nabi Muhammad SAW yang menjumpai Nabi dari kalangan Bani Israil yang tekun ibadah selama 80 tahun, nabi tersebut tidak pernah maksiat dan selalu taat kepada Allah SWT.
Lalu Nabi Muhammad SAW merasa cemas karena kalangan umatnya sendiri belum bisa melaksanakan ibadah selama itu, sebab terbatasnya umur.
“Umur umat Nabi Muhammad itu berkisar 60-70 tahun saja. Maka dari itu Rasulullah cemas, karena umur umatnya belum bisa melakukan amalan yang setara dengan Kaum dari Bani Israil tersebut. Sehingga Allah SWT memberikan Lailatul Qadar ini sebagaimana yang tertulis pada Firman Allah Surat Al-Qadar,” Jelasnya, Selasa, (2/4/2024)
Dijelaskannya lebih lanjut, Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga amal ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun melakukan ibadah.
Lailatul Qadar ini juga menjadi penyempurna umur umat Nabi Muhammad SAW yang tergolong memiliki umur yang pendek dari umat-umat sebelumnya.
“Sehingga dengan turunnya Lailatul Qadar ini, menjadikan amalan umat Nabi Muhammad yang dapat setara dengan amalan dari Kaum Bani Israil itu. Sebab jika ibadahnya mendapati Lailalitul Qadar, maka amalan itu seperti dikerjakan selama 83 tahun,” tambahnya
Tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar, Abdul Choliq Idris menyebut tidak ada riwayat ataupun penjelasan terkait kapan pastinya terjadi. Namun, mayoritas ulama telah menyepakati bahwa Malam Lailatul Qadar itu terjadi diantara 10 terakhir bulan Ramadan.
“Dalam kitab I’anathut Tholibin dijelaskan bahwa jika awal Ramadan nya Senin itu malam Lailatul Qadarnya di malam 21, jika awal Ramadan nya Selasa atau Jumat itu Lailatul Qadarnya di malam 27, jika awal Ramadan nya Kamis itu Lailatul Qadarnya di malam 25, dan kalau awal Ramadan nya Sabtu itu Lailatul Qadarnya di malam 23,” Paparnya
“Itu bukanlah patokan pasti, tapi cuma teori agar menyemangati kita untuk selalu beribadah menggapai malam mulia itu,” imbuhnya.
Menurut Abdul Choliq Idris, tidak ada yang mengetahui kapan pastinya terjadinya Lailatul Qadar itu, termasuk Rasulullah sendiri. Dengan adanya kerasahasiaan tersebut mengandung hikmah agar umat muslim semangat untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya berupa ibadah atau iktikaf berdiam diri di masjid saja, tetapi seperti sedekah juga termasuk di dalamnya.
“Dengan diharasiakan kapan terjadinya jadi tidak ada yang tahu siapa yang mendapati, karena bisa jadi malah sombong dan merasa puas. Maka menurut saya sedekah pada malam terakhir itu juga besar kemuliaannya, karena apabila kita mendapatinya akan sama halnya dengan sedekah selama 83 tahun,” pungkasnya. (magang)






