PKM Internasional Unesa Dampingi Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong

Tim Pengadbdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional Universitas Negeri Surabaya telah melakukan kegiatan PKM di Hong Kong. Kegiatan dilaksanakan bersama Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Hong Kong. Berdasarkan data menunjukkan bahwa Hong Kong merupakan salah satu negara tujuan PMI terbanyak ke-3 setelah Malaysia dan Arab Saudi. Sedangkan jumlah PMI di Hong Kong pada tahun 2023 terbanyak dari Provinsi Jawa Timur kurang lebih mencapai 120.000 orang yang tersebar diseluruh wilayah Hong Kong.

Keberadaan jumlah PMI yang banyak ini, tentunya menjadi tantangan dan problem tersendiri bagi PMI apalagi bekerja di Luar Negeri yang jauh dari keluarga. Data dan informasi yang didapat oleh tim PKM menunjukkan bahwa masih terdapat banyak kasus terkait dengan pengelolaan PMI di Hong Kong antara lain adanya kendala Bahasa, pengajuan visa awal yang lama, tidak digaji oleh majikan, kekerasaan, permasalahan kelengkapan dokumen, permasalahan keluarga, dipulangkan, dan lain sebagainya.

Berdasarkan permasalahan tersebut, sangat diperlukan dukungan melalui komunitas/kelompok kecil, seperti komunitas kedaerahan yang sampai dengan saat ini belum ada/terbentuk. Oleh karena itu Tim PKM yang diketuai oleh Deby Febriyan Eprilianto, S.Sos., MPA. dan yang beranggotakan dosen dari berbagai Program Studi di Unesa berinisiatif untuk melaksanakan PKM internasional.

Baca juga  Kemendikdasmen Dorong Perkuat Transformasi Pendidikan dengan Peningkatan Mutu

Pelaksanaan PKM Internasional ini selain sebagai bentuk untuk mendukung internasionalisasi Unesa, juga untuk memberikan advokasi berjenjang dan pendampingan PMI melalui pembentukan komunitas kedaerahan khususnya bagi PMI asal Ponorogo. Peningkatan pemahaman terkait dengan Lembaga-lembaga advokasi yang berjenjang mulai dari tingkat lokal sampai dengan tingkat pusat, dari kedudukannya di Indonesia maupun yang berada di negara tujuan, dan dari sifatnya formal sampai dengan informal sangat diperlukan bagi PMI untuk membantu berbagai permasalahan yang sedang dihadapi.

PKM internasional ini diawali dengan melakukan koordinasi dan penjajagan pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong yang dibersamai oleh Ibu Endah R. Yuliarti selaku Konsul Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KJRI Hong Kong. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa KJRI telah menyediakan fasilitas dan media advokasi, namun belum menyeluruh PMI tahu dan menggunakannya, sehingga keberadaan komunitas kedaerahan ini sangatlah diperlukan sebagai pihak pertama yang membantu dan selanjutnya bias diarahkan pada Lembaga advokasi yang ada seperti KJRI. Kalau keberadaan komunitas PMI yang se-Indoensia sudah ada, namun karena banyaknya jumlah PMI semua tidak bisa menyentuh seluruhnya, dan juga banyak yang tidak aktif dalam komunitas ini. Menurutnya pembentukan komunitas kedaerahan yang cangkupannya lebih kecil, memang harus ada dan terbentuk.

Baca juga  Kemendikdasmen Dorong Satuan Pendidikan Transformasi Hadapi Perubahan Demografi

Selain berkolaborasi dengan KJRI Hong Kong, pelaksanaan PKM Internasional ini juga menggandeng Dompet Dhuafa Hong Kong yang dalam kesempatan ini dibersamai oleh Ustadz Khusnul Muttaqin. Beliau juga menyampaikan Hadist Rasullah yang menyebutkan bahwa “Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia sebagaimana serigala bagi kambing. Serigala menerkam kambing yang memisahkan diri dari kawanannya dan menyendiri. Janganlah kalian memisahkan diri dari jamaah dan hendaklah kalian bersama Jamaah dan orang terbanyak (dari kalangan orang mukmin)”. Oleh karena sangat penting bagi PMI untuk berserikat atau berkumpul dengan membentuk suatu komunitas, diawali lingkup yang paling kecil yaitu kedaerahan. Beliau mengapreasiasi tim dari Unesa yang telah memperhatikan dan memberikan dukungan kepada PMI di Hong Kong melalui kegiatan ini. Harapannya kegiatan serupa dapat terus belanjut dan memberikan kebermanfaatan bagi PMI dan khalayak umum.

Baca juga  Bukan Sekadar Infak, Ada Pesan Khidmah NU di Balik Koin Muktamar NU YPM Panjunan

Advokasi yang dilakukan dengan penyampaian materi dan pendampingan melalui bantuan hikum Unesa. Banyak PMI yang menyampaikan berbagai permasalahan yang dihadapi antara lain terdapatnya data ganda, permasalahan keluarga, dan lain sebagainya. Pemberian dukungan dan advokasi dilakukan untuk memberikan penguatan dan motivasi bahwa permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan melalui bantuan Lembaga advokasi yang ada seperti KJRI, Lembaga bantuan hukum, Dinasker, LSM, dsb. Sedangkan melalui pembentukan komunitas kedaerahan, dari pelaksanaan kegiatan PKM ini disepakati nama komunitasnya yaitu IWPH (Ikatan Warga Ponorogo di Hong Kong) yang merupakan usulan dari PMI yang hadir.

Besar harapan tim PKM internasional Unesa, kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat khususnya bagi PMI dengan terbentuknya IWPH ini. Selanjutnya tim PKM akan terus melakukan pendampingan untuk memastikan komunitas IWPH ini secara legal dan menjadi bagian dari KJRI supaya terintegrasi. Sehingga kegiatan/aktivitas yang dilakukan dapat secara melembaga. Selain itu, pembentukan komunitas IWPH ini diharapkan juga menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *