MUI Minta Wacana Libur Sebulan Ramadan Perlu Dikaji, Tak Semua Siswa Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis juga ikut menanggapi wacana libur sekolah selama sebulan ini.

Menurutnya, wacana itu perlu dikaji lebih dalam lantaran tak semua siswa beragama Islam. Unsur produktivitas siswa selama libur juga harus jadi pertimbangan.

Cholil mengatakan, libur panjang selama bulan Ramadan sebenarnya telah diterapkan oleh sejumlah pesantren. Pasalnya, pesantren umumnya memiliki kurikulum dan masa belajar yang beda dengan sekolah umum.

“Kalau sebagian pesantren sudah melaksanakan libur panjang bahkan seminggu sebelum Ramadan dan masuk seminggu setelah Ramadan. Hampir ya, 45 hari malah liburnya,” kata Cholil kepada wartawan, Rabu (1/12).

Baca juga  Hardiknas, Mendikdasmen Tegaskan 3M Jadi Faktor Peningkatan Mutu Pendidikan

“Tapi kalau untuk umum saya pikir perlu menyesuaikan dengan kurikulum, ya kurikulumnya, di samping juga yang kedua tidak semuanya muslim. Tapi menurut saya itu tergantung kajian mana yang lebih bermanfaat, tetapi bukan liburnya, tetapi soal produktivitasnya,” ucapnya.

Cholil pun mengatakan, sekolah sebaiknya tetap mengadakan kegiatan belajar mengajar selama Ramadan. Jika ingin meningkatkan spiritual siswa Muslim, pendidik bisa menyertakan sejumlah aktivitas terkait itu.

Ia berpandangan siswa bisa terbiasa untuk berpuasa selagi belajar. Dengan begitu, kegiatan belajar mengajar tak akan mengganggu ibadah siswa.

“Karena sebenarnya orang berpuasa dengan belajar itu kalau dibiasakan, tidak mengganggu. Tapi kalau dimaklumi karena lapar dan seterusnya, maka menjadi tidak produktif oleh Nabi Muhammad SAW ya, pendidikan itu pada saat puasa tidak terganggu, bahkan ada peperangan di saat bulan puasa,” tuturnya. (Bg)

Baca juga  Mendikdasmen Sebut Paskibraka Hardiknas Cerminkan Semangat Pendidikan di RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *