Kerajinan Monel di Mojokerto hingga Kini Tetap Eksis

Desa Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai sentra kerajinan monel dengan produk ring atau cincin untuk batu akik. Puluhan perajin monel di desa ini sudah eksis sejak tahun 1980 an dan hingga kini masih eksis dan bertahan.

Menurut salah satu perajin monel, Heru Sisnoto (51), sampai saat ini terdapat 10 perajin ring akik yang masih eksis di Desa Pekuwon. Cincin berbahan monel yang dibuat secara manual (handmade) ini digandrungi para pecinta akik dari berbagai daerah di Indonesia.

“Selain (produk) cincin kita ada liontin, kepala sabuk (gesper), gelang, dan vandel untuk hiasan meja,” ujar Heru, Selasa (24/6/2025).

Baca juga  12 Jembatan Perintis Garuda di Mojokerto Diresmikan Serentak Presiden Prabowo

Heru menjelaskan, keterampilan membuat cincin dibawa keturunan Tionghoa asal Probolinggo yang menikah dengan tetangganya. Sekitar tahun 1980, si pendatang menularkan ilmunya kepada 4 adik iparnya.

“Dulu ada salah satu warga yang menikah dengan warga chinese, tahun 1987 an, punya keahlian bikin kerajinan dari monel, terus ditularkan ke warga, terus menyebar sampai kita. Kita ini generasi ketiga,” katanya.

Kini akik memasuki masa surut karena peminatnya tak seramai dulu. Meski begitu, Heru dan 9 temannya sesama perajin tetap eksis. Mereka pun memilih Facebook maupu media online lainnya sebagai sarana pemasaran online. Terbukti cincin buatan komunitas Monel Handmade Mojokerto (MHM) ini masih banyak dipesan pecinta akik dari berbagai daerah di tanah air.

Baca juga  Pengendalian Penambangan MBLB, Kapolres Mojokerto Dorong Pembinaan dan Penegakan Hukum

“Dulu pake facebook, kita masuk ke grup-grup perajin batru akik, akhirnya ramai sampai sekarang, produk kita sudah menyebar ke hampir seluruh nusantara,” pungkasnya. (ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *