Pemerintah resmi menutup penyelenggaraan ibadah haji 1446 H. Namun demikian usaha untuk pencarian 3 jemaah haji yang hilang di Arab Saudi terus dilakukan.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan, Ketiga jemaah Haji tersebut diduga mengidap demensia dan kehilangan orientasi saat berada di hotel, salah satunya bahkan meninggalkan istri dan anaknya tanpa kabar.
“Ada satu jemaah yang lupa nama dan alamatnya sendiri. Ia keluar dari hotel dan tidak pernah kembali,” ungkapnya, Selasa (15/7/2025).
Pencarian masih terus dilakukan oleh tim Indonesia yang berada di Arab Saudi, berkoordinasi dengan otoritas setempat. Menurut Menag, tidak ada batas waktu dalam pencarian ini.
“Kita tetap mencari, bahkan untuk jemaah yang hilang sejak tahun lalu pun kita masih beri perhatian,” tegasnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah minimnya identitas pada korban. Dalam beberapa kasus, jemaah melepas gelang identitas dan tidak membawa paspor maupun tanda pengenal.
“Ada jemaah yang ditemukan tanpa satu pun identitas. Untungnya bisa bicara bahasa Indonesia, jadi dikenali sebagai WNI,” ucapnya.
Untuk mendukung proses identifikasi, pemerintah juga akan meminta sampel DNA dari keluarga jemaah yang hilang. Hal ini dilakukan untuk mencocokkan dengan jenazah yang belum teridentifikasi di Arab Saudi.
Nasaruddin menegaskan insiden ini akan menjadi bagian penting dari evaluasi nasional. Ke depan, penggunaan teknologi pelacak seperti chip GPS akan dikaji agar jemaah rentan dapat lebih mudah dipantau keberadaannya.
“Kami menyadari ada kekurangan. Kami mohon maaf kepada seluruh jemaah. Semoga ini menjadi pelajaran penting menuju haji yang lebih aman dan tertib di masa mendatang,” ujarnya. (Ym)






