Unair Kukuhkan 9.437 Mahasiswa Baru, Terapkan Absensi Berbasis FR

Universitas Airlangga (UNAIR) mengukuhkan 9.347 mahasiswa baru, Kamis (31/7) di Kampus C Unair Surabaya.

Mahasiswa ini berasal dari program D3, D4, dan S1 tahun akademik 2025/2026. Total ada 63 program studi dari beragam jalur seleksi.

Rinciannya, 604 mahasiswa D3, 1.664 mahasiswa D4, dan 7.079 mahasiswa S1. Untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang diterima 2.359 mahasiswa. Kemudian Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) ada 2.743 mahasiswa.

Selanjutnya dari Jalur Mandiri Reguler: ada 3.944 mahasiswa. Jalur Mandiri Internasional ada 262 mahasiswa. Program Afirmasi Adik Papua ada 15 mahasiswa. Dari Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) ada 19 mahasiswa. Da terakhir dari Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) ada 5 mahasiswa.

Baca juga  Kemendikdasmen Jadikan Perpustakaan Rumah Pendidikan dan Ruang Dialog

“Dari sisi sebaran wilayah, tercatat 1.060 mahasiswa berasal dari luar Pulau Jawa, serta 54 mahasiswa dari luar negeri. Mereka berasal dari Malaysia, Tiongkok (Hunan), Mekah (Arab Saudi), dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab),” kata Rektor UNAIR, Prof Muhammad Madyan saat jumpa pers.

Prof Madyan menuturkan, tahun ini Unair memperkenalkan inovasi baru dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Inovasi yang dimaksud yakni penerapan absensi berbasis Face Recognition (FR).

“Teknologi ini merupakan lanjutan dari sistem registrasi biometrik yang telah lebih dulu digunakan. FR dipasang di setiap pintu masuk gedung untuk mendukung akurasi, efisiensi, dan keamanan kegiatan akademik,” sambungnya.

Dia menegaskan bahwa kehadiran 9.347 mahasiswa baru ini menjadi momentum penting bagi UNAIR dalam melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045.

Baca juga  Tahun Ajaran Baru Sekolah, Pertamina Bagikan Ribuan Seragam ke Siswa

“Kami menyambut dengan penuh optimisme generasi baru ini. Mereka bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga diharapkan adaptif, berjiwa sosial, dan memiliki semangat kolaboratif. UNAIR berkomitmen membentuk mahasiswa yang siap membawa perubahan positif, tidak hanya untuk bangsa, tetapi juga untuk dunia,” ungkapnya.

Dengan penerapan teknologi face recognition, tegas Prof Madyan, merupakan langkah nyata UNAIR dalam menjaga integritas akademik.

“Selama ini isu penjokian menjadi salah satu tantangan besar dalam penerimaan mahasiswa baru. Dengan face recognition, kami bisa memastikan keaslian identitas mahasiswa sejak pendaftaran hingga kegiatan perkuliahan. Alhamdulillah, tahun ini kami pastikan tidak ada mahasiswa hasil penjokian yang lolos masuk UNAIR,” jelasnya.

Baca juga  Mendikdasmen Sebut MPLS Harus Jadi Pengalaman Pertama yang Menyenangkan

Nantinya inovasi ini tidak hanya berhenti di PKKMB, tetapi juga akan digunakan dalam berbagai kegiatan akademik termasuk ujian.

“Transformasi digital ini akan terus kami kembangkan agar setiap aktivitas di UNAIR lebih akurat, efisien, dan transparan. Dengan demikian, UNAIR bisa menjadi role model perguruan tinggi yang berintegritas dan unggul di tingkat global,” pungkasnya.

Dengan tema “Fun, Humanis, Akademis”, PKKMB 2025 UNAIR menekankan pembentukan generasi baru yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga adaptif, berjiwa sosial, dan kolaboratif. UNAIR optimis para mahasiswa baru akan menjadi bagian dari generasi emas Indonesia 2045. (Bg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *