Strategi Tim Inflasi Sukses Jaga Harga Beras Tetap Stabil

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, mengambil langkah proaktif untuk mencegah kenaikan harga beras, memastikan pasokan tetap stabil dan terjangkau bagi, warga. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Pemkot Surabaya berupaya keras, menjaga kestabilan harga bahan pokok, terutama beras.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa Pemkot memiliki Tim Pengendali Inflsi Daerah (TPID), yang secara khusus bertugas menjaga harga beras, agar tidak melonjak.

“Tim ini bekerja sama dengan Bulog dan berbagai pihak terkait, untuk mengendalikan harga,” kata Wali Kota Eri, Sabtu (16/8).

Menurut Wali Kota Eri, Pemkot Surabaya tidak khawatir mengenai pasokan beras, karena sudah menjalin kerja sama dengan daerah-daerah penghasil beras.

Baca juga  Dispendik Surabaya Paparkan Skema Perhitungan Jalur Prestasi SPMB 2026/2027

“Selama pasokan dari daerah lain terus terkirim, sesuai dengan nota kesepahaman (MOU) yang ada, Insyaa Allah pasokan di Surabaya akan aman,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya, Febrina Kusumawati, menambahkan bahwa timnya, fokus pada sisi harga.

Ia menekankan bahwa Pemkot Surabaya, akan terus memantau situasi dan bekerja sama, dengan semua pihak terkait untuk memastikan harga beras, di kota tetap terkendali.

“Kami berkoordinasi dengan Bulog, para supplier, dan BPS untuk memantau harga pasar secara rutin. Tujuannya, adalah untuk mengantisipasi kenaikan harga yang drastis,” imbuh Febri sapaan akrabnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya melakukan verifikasi informasi dari pedagang. “Kami mendapat laporan adanya kenaikan harga sekitar Rp500, hingga Rp1000 per kilogram, tetapi setelah kami cek, stok beras Bulog masih memadai dan harganya stabil. Jika Bulog bisa menjaga pasokan, seharusnya, tidak ada gejolak harga,” jelasnya.

Baca juga  Partisipasi Kurban di Sekolah Harus Sukarela, Jangan Jadi Beban Wali Murid

Terkait dugaan adanya beras oplosan, Febri menegaskan, bahwa timnya belum menemukan bukti di lapangan.

“Dugaan seperti ini harus dibuktikan melalui uji laboratorium. Kita tidak bisa hanya berasumsi. Hasil uji lab akan menjadi dasar, untuk mengambil tindakan,” pungkasnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *