Pemkot Perkuat Peran Guru dan Orang Tua Cegah Radikalisme

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga, dalam mencegah penyebaran paham radikalisme, di kalangan anak dan remaja. Upaya ini menjadi bagian dari kerja sama, dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, untuk mengedukasi anak-anak, agar lebih cerdas dan aman di dunia digital.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan sekolah memiliki peran vital, dalam membangun karakter dan literasi digital anak-anak. “Di pendidikan itu kalau bisa ya ilmunya memang lebih. Kalau (misal analogi) siswanya satu, ya gurunya dua,” ujar Yusuf, Ahad (12/10).

Menurutnya, guru tidak hanya bertanggung jawab pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak. “Anak-anak ini kan harus kita siapkan di masa depan. Agamanya, karakternya, akademisnya, talenta, minat bakatnya,” katanya.

Untuk itu, Yusuf menilai guru harus selalu siap, mendampingi siswa dalam setiap perubahan era, termasuk kemajuan teknologi. “Sebagai guru itu nggak boleh lelah, tidak boleh pantang menyerah, harus terus yang terbaik untuk anak-anak,” tuturnya.

Yusuf menekankan pentingnya, pola pendampingan dibanding larangan, dalam penggunaan gawai. “Anak itu jangan dilarang, tapi diarahkan dan didampingi. Soalnya, nanti pasti itu ada untung rugi, kalau anak ketinggalan era ini,” jelasnya.

Baca juga  Surabaya Raih Tiga Penghargaan Nasional Kearsipan 2026

Menurutnya, pengaturan waktu penggunaan gawai, bagi anak-anak menjadi kunci utama. Selain waktu, guru juga diminta mampu mendeteksi perubahan perilaku siswa, yang berpotensi terpapar ideologi ekstrem. “Guru-guru itu juga harus dibekali kemampuan untuk melihat, mendeteksi tanda-tanda radikalisme, di lingkungan sekolah,” katanya.

Melalui program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS), Pemkot Surabaya berupaya menanamkan semangat nasionalisme dan gotong royong, di kalangan pelajar. “Ada pramuka, ada Paskib (Pasukan Pengibar Bendera). Itu salah satunya, untuk menanamkan nasionalis dan kebangsaan,” ujarnya.

Selain itu, Yusuf menyebut, Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang dibentuk di setiap sekolah, juga berperan penting, dalam memfasilitasi komunikasi antar siswa. “Satgas PPKS di sekolah itu minimal, harus tahu perubahan perilaku teman-temannya,” jelasnya.

Bagi Yusuf, keseimbangan antara pendidikan di rumah dan sekolah, harus dibangun agar anak tidak hanya mengenal dunia luar, tetapi juga memahami lingkungan sekitarnya. “Jangan sampai anak-anak itu, kenal dunia luar tapi tidak pernah tahu, atau kenal dunia dalam,” ujarnya.

Yusuf berharap guru dan orang tua terus bersinergi, dalam membentuk generasi yang tangguh menghadapi era digital. “Orang tua, teman-teman guru, mohon doa support-nya, sinergi terus untuk anak-anak. Jangan pernah lelah, terus dampingi anak-anak di era digital ini,” tutupnya. (yunus)

Pemkot Perkuat Peran Guru dan Orang Tua Cegah Radikalisme

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga, dalam mencegah penyebaran paham radikalisme, di kalangan anak dan remaja. Upaya ini menjadi bagian dari kerja sama, dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, untuk mengedukasi anak-anak, agar lebih cerdas dan aman di dunia digital.

Baca juga  Stok Pangan Surabaya Aman Selama Rangkaian Libur Panjang Iduladha 2026

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan sekolah memiliki peran vital, dalam membangun karakter dan literasi digital anak-anak. “Di pendidikan itu kalau bisa ya ilmunya memang lebih. Kalau (misal analogi) siswanya satu, ya gurunya dua,” ujar Yusuf, Ahad (12/10).

Menurutnya, guru tidak hanya bertanggung jawab pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak. “Anak-anak ini kan harus kita siapkan di masa depan. Agamanya, karakternya, akademisnya, talenta, minat bakatnya,” katanya.

Untuk itu, Yusuf menilai guru harus selalu siap, mendampingi siswa dalam setiap perubahan era, termasuk kemajuan teknologi. “Sebagai guru itu nggak boleh lelah, tidak boleh pantang menyerah, harus terus yang terbaik untuk anak-anak,” tuturnya.

Yusuf menekankan pentingnya, pola pendampingan dibanding larangan, dalam penggunaan gawai. “Anak itu jangan dilarang, tapi diarahkan dan didampingi. Soalnya, nanti pasti itu ada untung rugi, kalau anak ketinggalan era ini,” jelasnya.

Menurutnya, pengaturan waktu penggunaan gawai, bagi anak-anak menjadi kunci utama. Selain waktu, guru juga diminta mampu mendeteksi perubahan perilaku siswa, yang berpotensi terpapar ideologi ekstrem. “Guru-guru itu juga harus dibekali kemampuan untuk melihat, mendeteksi tanda-tanda radikalisme, di lingkungan sekolah,” katanya.

Baca juga  Pemkot Surabaya Gandeng Pelindo dan Pusvetma Perketat Pengawasan Hewan Kurban

Melalui program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS), Pemkot Surabaya berupaya menanamkan semangat nasionalisme dan gotong royong, di kalangan pelajar. “Ada pramuka, ada Paskib (Pasukan Pengibar Bendera). Itu salah satunya, untuk menanamkan nasionalis dan kebangsaan,” ujarnya.

Selain itu, Yusuf menyebut, Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang dibentuk di setiap sekolah, juga berperan penting, dalam memfasilitasi komunikasi antar siswa. “Satgas PPKS di sekolah itu minimal, harus tahu perubahan perilaku teman-temannya,” jelasnya.

Bagi Yusuf, keseimbangan antara pendidikan di rumah dan sekolah, harus dibangun agar anak tidak hanya mengenal dunia luar, tetapi juga memahami lingkungan sekitarnya. “Jangan sampai anak-anak itu, kenal dunia luar tapi tidak pernah tahu, atau kenal dunia dalam,” ujarnya.

Yusuf berharap guru dan orang tua terus bersinergi, dalam membentuk generasi yang tangguh menghadapi era digital. “Orang tua, teman-teman guru, mohon doa support-nya, sinergi terus untuk anak-anak. Jangan pernah lelah, terus dampingi anak-anak di era digital ini,” tutupnya. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *