PBNU Terima Kunjungan Dubes Maroko, Bahas Penguatan Kerja Sama Pendidikan

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko dan Republik Islam Mauritania, Yuyu Sutisna, melakukan kunjungan silaturahmi ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, pada Rabu (12/11/2025).

Kunjungan ini diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, untuk membahas agenda penguatan kerja sama antara NU dan Maroko, khususnya dalam bidang pendidikan. Dalam pertemuan yang berlangsung akrab di Lantai 3 Gedung PBNU tersebut, Dubes Yuyu Sutisna menyampaikan komitmennya untuk memfokuskan dan mengembangkan program-program yang selaras dengan visi NU.

“Saya mendiskusikan dengan beliau terkait kerja sama khususnya NU dengan Maroko. Kami sudah menangkap keinginan beliau. Jadi, beliau menginginkan terfokus kepada apa yang dibutuhkan dan sejalan dengan Nahdlatul Ulama seperti itu,” ujar Yuyu.

Baca juga  Kapolri Lantik 6 Kapolda Baru

Yuyu menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi kerja sama yang sudah ada dan membuka peluang baru yang saling menguntungkan, dengan NU sebagai mitra strategis di Maroko. Misalnya, kerja sama dalam pemberian beasiswa bagi jenjang sarjana yang telah berlangsung rutin setiap tahun. Pada tahun ini, 24 mahasiswa diberangkatkan untuk menempuh studi di Maroko. “Selama ini, kerja sama sudah jalan dan NU mendapat dalam tanda petik di sana (Maroko) tempat yang baik di pemerintahan sana. Terbukti sudah mengirim untuk beasiswa dari sini ke sana dan tahun ini bisa mengirim 24 mahasiswa dari NU,” ujar Yuyu.

“Ke depan saya usahakan untuk bisa menambah mahasiswa tersebut. Namun, tadi itu baik jurusannya atau fakultasnya yang sejalan dengan konsep dari NU,” imbuhnya.

Baca juga  Kemhan Klarifikasi Kenapa Calon Pengelola Kopdes Diberi Pelatihan Militer

Lebih lanjut, Dubes Yuyu juga menyoroti potensi kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dengan Maroko. Ia mengingatkan bahwa hubungan diplomatik kedua negara telah terjalin erat sejak kunjungan Presiden Soekarno pada 1960, yang diabadikan dengan adanya Jalan Soekarno di Maroko dan Jalan Casablanca di Indonesia.

“Saat ini cukup besar yang bisa di kerja sama kan di bidang perdagangan karena ekspor CPO (crude palm oil/minyak kelapa sawit) kita ke sana juga sangat besar termasuk ke Mauritania,” katanya. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *