Sukodono, 19 Desember 2025 — Suasana halaman SMAYDAS (SMA YPM 2 Sukodono) pagi ini tampak berbeda dari biasanya. Dua sepeda ontel mini terlihat terparkir rapi. Bukan untuk kegiatan gowes bersama, melainkan sepeda tersebut akan diberikan kepada dua siswi SMAYDAS yang selama ini mengalami kendala transportasi saat berangkat dan pulang sekolah. Kendala tersebut bukan karena kurangnya semangat belajar, melainkan akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Adalah Jesika Olivia Putri, kelas XI-F1. Jesika tinggal di rumah kos bersama kedua orang tuanya. Ayahnya bekerja sebagai pengatur lalu lintas di Jalan Raya Nggilang, Taman, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang sesekali membantu mencari nafkah jika ada pekerjaan. Penghasilan keluarga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membayar biaya kos.
“Untuk berangkat sekolah, Jesika kadang dipinjami sepeda motor oleh ibu kos. Saat pulang, sering kali ia harus berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer,” jelas Ibu Peni, wali kelas Jesika, yang telah mendatangi langsung tempat tinggal siswinya.
Ada juga Tulus Tiara Setia K, kelas X-E4. Tiara terkadang tidak dapat masuk sekolah karena tidak ada yang mengantar dan tidak memiliki biaya untuk naik ojek. Saat ini Tulus tinggal bersama ibu dan kakak-kakaknya. Ayahnya telah meninggal dunia, meninggalkan duka sekaligus tanggungan kewajiban kredit di bank. Kakak perempuan Tulus kini menjadi tulang punggung keluarga, meski suaminya juga telah meninggal dunia. Sementara kakak laki-lakinya turut membantu perekonomian keluarga. Namun, sebagian besar penghasilan mereka digunakan untuk mengangsur utang keluarga.
“Di rumah hanya ada satu sepeda motor yang dipakai bergantian oleh kakak-kakaknya untuk bekerja. Jadi, Tulus kadang tidak sekolah jika tidak ada yang mengantar atau tidak memiliki uang untuk naik ojek. Jika pulang berjalan kaki, jaraknya cukup jauh, sekitar 5 kilometer dari SMAYDAS ke rumahnya di Ganting, Gedangan,” terang Ibu Sherly, wali kelas Tulus.
Mendapat laporan tersebut, M. Hajir, Kepala SMAYDAS, kemudian menemui kedua siswi tersebut dan menawarkan bantuan berupa sepeda.
“Alhamdulillah, mereka bersedia berangkat sekolah dengan bersepeda. Biasanya, jika ada kondisi seperti ini, kami arahkan untuk berangkat bersama teman yang searah. Namun, mereka pernah mencoba dan merasa sungkan karena takut merepotkan, sehingga lebih memilih berjalan kaki,” jelas Hajir.
Hajir menambahkan bahwa seluruh biaya perawatan dan penggantian onderdil sepeda menjadi tanggung jawab sekolah. Pihak sekolah tidak ingin bantuan ini justru menjadi beban bagi penerima. Oleh karena itu, jika ada kerusakan atau pergantian onderdil, siswi cukup menyerahkan nota atau kuitansi untuk diganti oleh sekolah.
Kebahagiaan tampak jelas dari wajah Jesika dan Tiara saat menerima sepeda tersebut.
“Saya sangat bersyukur dan tidak menyangka akan mendapatkan bantuan ini dari sekolah. Terima kasih kepada Bapak-Ibu guru dan seluruh pihak sekolah. Sepeda ini sangat berharga bagi saya,” ujar Jesika Olivia Putri.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Tiara yang kini siap bersepeda berangkat dan pulang sekolah.
“Saya senang sekali mendapatkan bantuan yang nyata dan sangat berguna seperti sepeda. Alhamdulillah, ini benar-benar membahagiakan dan membantu saya,” ungkap Tulus dengan penuh syukur.
Bantuan ini diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para murid untuk terus berjuang menuntut ilmu, tanpa menyerah pada keterbatasan. Karena pendidikan adalah jalan panjang yang membutuhkan ketekunan, kepedulian, dan kebersamaan. Ketika satu langkah terasa berat, uluran tangan yang tulus mampu menguatkan dan menyalakan harapan untuk terus melangkah ke depan. (jursmay)






