Deteksi Dini Gejala Super Flu

Merebaknya kasus superflu yang berasal dari virus Influenza A (H2N3) subclade K telah menjadi perhatian publik. Tercatat 62 kasus telah ditemukan di Indonesia yang tersebar di 8 provinsi dengan jumlah tertinggi di Jawa Timur dengan jumlah 23 pasien positif superflu.

Menanggapi fenomena kesehatan tersebut, Dosen Luar Biasa (LB) sekaligus ahli bidang Public Health Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Windhu Purnomo dr MS angkat bicara. Menurutnya kasus superflu yang terjadi saat ini memiliki gejala yang mirip dengan gejala flu pada umumnya.

“Secara umum gejalanya sama dengan flu biasa yaitu demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata sulit membedakan dengan flu biasa, namun apabila terdapat sesak nafas dan gejala sakit yang tidak kunjung sembuh maka perlu untuk diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan terdekat,” ungkapnya, Sabtu (10/1).

Baca juga  Perkuat Layanan Kesehatan, Pemerintah Buka 156 Prodi Spesialis Kedokteran

Deteksi Dini

Windhu menyebut bahwa dalam diagnosis penyakit superflu perlu adanya uji lanjut dengan pengujian di laboratorium. Pengujian tersebut disebut dengan WGS (Whole Genome Sequencing) untuk mendeteksi DNA virus H2N3 pada manusia. Selain itu, superflu juga memiliki penularan yang lebih cepat dari flu biasa.

“Meski demikian superflu termasuk jenis penyakit yang tidak begitu berbahaya. Bisa dilihat dari angka hospitalisasi dan fatalitas yang rendah. Dengan demikian, apabila imun tubuh kuat maka penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun penting untuk tidak memandang remeh penyakit superflu ini,” ungkapnya.

Solusi Strategis

Dalam pencegahannya, Windhu menekankan pentingnya PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat). Virus superflu menyebar melalui droplet, karena itu penting untuk menjaga kebersihan diri setelah menyentuh sesuatu. Cuci tangan secara rutin, memakai masker, olahraga rutin, serta istirahat cukup dapat menjadi kiat mencegah infeksi superflu.

Baca juga  Perkuat Layanan Kesehatan, Pemerintah Buka 156 Prodi Spesialis Kedokteran

“Gunakan masker dan tutupi hidung dan mulut saat batuk atau bersin. Droplet ini dapat menjadi media penularan superflu. Selain itu masyarakat perlu kritis dalam memilah informasi terkait superflu. Cari sumber informasi yang kredibel, jangan sampai menyebarkan hoax terkait superflu sehingga menimbulkan mispersepsi di masyarakat,” ujarnya

Lebih lanjut, Windhu menyebut bahwa pemantauan rutin (surveilans) menjadi kunci dalam mengontrol penyebaran penyakit superflu di masyarakat. Pemerintah perlu mendata berapa banyak pasien dengan kondisi gejala serupa flu (Influenza Like Illness) untuk kemudian dapat dilakukan pengujian WGS untuk mendeteksi superflu.

“Masyarakat tidak perlu panik dengan penyakit ini, jaga kesehatan dan terus terapkan PHBS. Dalam menangani kasus ini, pemerintah harus memberikan informasi yang tepat dan data yang real. Jangan meremehkan bahayanya, namun jangan pula memberikan rasa takut di masyarakat,” ujarnya. Bg

Baca juga  Perkuat Layanan Kesehatan, Pemerintah Buka 156 Prodi Spesialis Kedokteran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *