Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, terus memperkuat kesiapan infrastruktur pengendalian banjir, untuk menghadapi potensi curah hujan ekstrem, yang diperkirakan terjadi pada Februari 2026. Upaya tersebut dilakukan, melalui penambahan rumah pompa, normalisasi saluran air, serta peningkatan kapasitas sistem drainase, di sejumlah titik rawan genangan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengatakan pemkot telah menyiapkan pembangunan sejumlah rumah pompa baru, di beberapa kawasan strategis. “Jadi di (dekat) Gereja Bethany, kawasan Semolo dan Nginden, itu kita bikin rumah pompa,” ujar Hidayat Syah, Sabtu (31/1).
Selain itu, Hidayat menyebut, rumah pompa juga akan dibangun di kawasan Teluk Kumai, tepatnya di Teluk Betung. Dengan tambahan tersebut, jumlah rumah pompa di Surabaya, akan bertambah lima unit dari total sebelumnya, sebanyak 85 unit. “Jadi ada lima lagi (rumah pompa). Bulan ini dan bulan depan kita lelang,” katanya.
Hidayat menegaskan, penambahan rumah pompa menjadi salah satu langkah penting, untuk memperkuat sistem pengendalian banjir di Surabaya. Selain pembangunan infrastruktur baru, pemkot juga tetap mengandalkan normalisasi saluran, sebagai solusi utama untuk menjaga kelancaran aliran air.
“Nah, ini kami lakukan sekarang. Jadi kami lakukan (normalisasi), dengan pakai alat (berat), terus dengan tenaga-tenaga Satgas,” jelasnya.
Ia mencontohkan normalisasi yang telah dilakukan, di kawasan Simo Kalangan, yang memiliki tingkat sedimentasi cukup tinggi. Dalam proses tersebut, pemkot juga melibatkan Satgas di tingkat kecamatan, untuk menangani saluran-saluran di lingkungan warga. “Nah itu selokan-selokan warga yang mengurus teman-teman, dari Satgasnya kecamatan. Jadi (Satgas) Kecamatan juga turun,” ungkap Hidayat.
Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan kondisi sistem drainase di Surabaya, terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perubahan pola curah hujan. Menurutnya, sejumlah saluran yang sebelumnya dirancang, dengan kapasitas tertentu kini perlu diperbesar, untuk mengakomodasi intensitas hujan, yang semakin tinggi.
“Jadi memang ada beberapa sistem drainase, yang memang dirasa kita memang menyesuaikan dari intensitas curah hujan,” kata Adi.
Pada tahun 2026, Adi menuturkan, DSDABM melakukan intervensi, terhadap 12 dari total 30 sistem drainase, yang ada di Surabaya. Intervensi tersebut mencakup peningkatan kapasitas saluran drainase, termasuk pembesaran long storage yang dinilai menjadi kebutuhan mutlak.
“Memang di tahun 2026 ini, kami ada intervensi dari 30 sistem drainase yang kita miliki, kita ada preservasi di 12 sistem,” ungkapnya.
Menurut dia, pemetaan titik genangan di Surabaya sebenarnya, telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Dari sekitar 220 titik genangan yang terdata sejak 2021, jumlah tersebut kini berhasil ditekan menjadi sekitar 138 titik.
Meski demikian, beberapa lokasi seperti kawasan Jalan Raya Tenggilis Mejoyo, Simo Kalangan, dan Margo Mulyo, masih menjadi pekerjaan rumah yang masuk dalam perencanaan penanganan lima tahun ke depan. “Yang namanya genangan, itu tiga parameter yang kita kendalikan. Yakni, terkait dengan tinggi genangannya, lama genangannya, sama luas genangannya,” jelas Adi.
Terkait genangan yang memerlukan waktu lama, untuk surut di kawasan Margo Mulyo, Adi menyebut jika wilayah tersebut memiliki karakteristik khusus, karena berada di cekungan, terutama di bawah jalan tol dan area keluar Tol Margo Bumi. Meski telah dilengkapi dengan Rumah Pompa Dongfeng, kapasitas dan konektivitas saluran di kawasan tersebut, masih perlu ditingkatkan. “Memang nanti kapasitasnya kita juga akan lakukan (perbesar), selain pemeliharaan,” papar Adi.
Untuk menghadapi puncak musim hujan Februari 2026, DSDABM memprioritaskan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) secara masif. Kegiatan tersebut meliputi pengerukan saluran secara rutin, untuk mengurangi sedimentasi yang dapat menghambat aliran air. “Jadi yang hal mandatory dari kami sebenarnya, tadi prioritas adalah OP-nya, Operasi Pemeliharaannya,” sebut Adi.
Pihaknya mengakui ketidakpastian cuaca menjadi tantangan tersendiri, meski perencanaan telah didasarkan pada analisis hidrologi jangka panjang. Oleh karena itu, selain memastikan kesiapan sarana dan prasarana, pemkot juga menekankan pentingnya edukasi, terkait sampah kepada masyarakat.
“Tapi yang otomatis kita ikhtiarnya, adalah sarana prasarana, sembari dengan edukasi masalah sampah, hal yang mungkin sangat kita harus intens di situ,” pungkasnya. (yunus)












