Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem untuk seluruh wilayah Jawa Timur dalam sepekan ke depan.
Berdasarkan hasil analisis atmosfer terbaru, terdapat peningkatan risiko cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, mengatakan kondisi ini berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi yang dapat mengganggu aktivitas hingga keselamatan warga.
“Waspadai potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jawa Timur yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi berupa hujan sedang-lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es hingga periode 28 Februari 2026,” kata Taufiq, Senin (23/12).
Potensi cuaca buruk ini mencakup hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Jawa Timur, yakni Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang.
Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang.
Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kabupaten Bangkakan.
Kemudian Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep, Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Surabaya, dan Kota Batu
Saat ini, kata dia, mayoritas wilayah memang sedang berada pada fase puncak musim hujan, sehingga akumulasi curah hujan diperkirakan akan jauh lebih tinggi dari biasanya.
“Saat ini seluruh wilayah di Jawa Timur berada pada musim hujan dan beberapa wilayah diprakirakan masih mengalami puncak musim hujan,” ucapnya.
BMKG menjelaskan fenomena ini dipicu oleh aktivitas Monsun Asia serta gangguan gelombang atmosfer yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Kombinasi antara Madden Jullian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby, ditambah dengan suhu muka laut yang hangat di Selat Madura, menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil dan memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif.
“Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia dan diprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Low Frequency, Madden Jullian Oscillation dan Gelombang Rossby yang akan melintasi wilayah Jawa Timur,” katanya
“Suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang,” tambahnya. Bg












