Bank Indonesia (BI) mengakui permintaan dolar AS di dalam negeri sedang meningkat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kenaikan permintaan dolar terjadi seiring musim membawa pulang dana ke negara asal (repatriasi) dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan impor.
“Dalam negeri juga saat ini demand dolar meningkat karena sedang musim repatriasi dividen, kemudian juga pembayaran utang luar negeri dan juga terkait dengan kebutuhan impor,” ujar Denny kepada awak media di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5).
Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global, terutama konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS.
“Kalau kita lihat, dari akhir Februari sampai sekarang kenaikan harga minyak sudah lebih dari 40 persen,” katanya.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury 10 tahun yang mendekati level 4,5 persen turut memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
“Dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah, tidak hanya rupiah,” ujar Denny.
Ia mencontohkan sejumlah mata uang lain yang ikut tertekan terhadap dolar AS, seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, hingga won Korea Selatan. Bg








