Konferensi Indonesia tentang Pengendalian Tembakau atau Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) ke-11 resmi digelar di ASEC Tower, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, pada 21-22 Mei 2026. Pertemuan tahunan ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, praktisi, hingga pemangku kebijakan untuk memperkuat komitmen pengendalian tembakau di Indonesia.
Ketua Organizing Committee (OC) ICTOH ke-11, Dr. Kurnia Dwi Artanti, dr., M.Sc., menjelaskan bahwa konferensi tahun ini menggandeng Universitas Airlangga serta berbagai organisasi seperti TCSC IAKMI Pusat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, terhadap bahaya tembakau.
“Harapannya, ICTOH ini menjadi wadah bagi akademisi, pemangku kebijakan, hingga pelajar agar lebih sadar terkait pengendalian tembakau. Kami ingin menunjukkan keseriusan pemerintah dan komitmen bersama dalam isu ini,” ujar Dr. Kurnia.
Salah satu poin utama yang disorot dalam konferensi ini adalah tren penggunaan rokok elektrik atau vape yang kian meningkat di masyarakat. Dr. Kurnia menegaskan bahwa persepsi masyarakat yang menganggap rokok elektrik lebih aman daripada rokok konvensional adalah sebuah kekeliruan besar.
“Rokok elektrik menjadi tantangan karena dianggap aman, padahal itu persepsi yang salah. Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan dan PP terbaru, rokok elektrik harus dikendalikan karena sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Tidak ada ukuran aman, apalagi bagi anak-anak,” tegasnya.
Tercatat lebih dari 150 abstrak dan poster hasil riset dari seluruh Indonesia dipresentasikan dalam ajang ini, di mana banyak di antaranya mengupas tuntas risiko kesehatan akibat rokok elektrik.
Selain aspek kesehatan, konferensi ini juga menghadirkan perspektif dari sisi petani. Dr. Kurnia memaparkan adanya gerakan diversifikasi tanaman bagi petani tembakau. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko penyakit seperti Green Tobacco Sickness yang sering menyerang petani saat mengolah daun tembakau.
“Ada petani yang hadir menceritakan pengalaman mereka beralih dari tembakau ke komoditas lain yang lebih menguntungkan dan bermanfaat. Ini membuktikan bahwa ada jalan lain bagi petani untuk tetap sejahtera tanpa harus bergantung pada tanaman tembakau,” tutupnya. Bg






