Lingkungan sudah menjadi suatu bagian penting dalam menemani kehidupan sehari-hari. Dalam peringatannya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 diperingati setiap tanggal 5 Juni 2026 dengan tema climate action atau aksi iklim. Pakar lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Indradewi Oktavitri S T M T Ph D sekaligus dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) turut menyampaikan pesannya.
Energi Menipis, Sampah Melimpah
Dosen yang akrab disapa Nio mengatakan bahwa kondisi lingkungan saat ini perlu menjadi sorotan karena keresahan yang ditimbulkan karena ketersediaan energi yang semakin sedikit, sedangkan populasi Indonesia terus bertambah serta membutuhkan demand energi yang senada. Untuk itu, implementasi energi alternatif dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga surya atau pembakaran sampah menjadi bio oil yang dapat dikonversi.
Selain itu, sampah yang terus melimpah setiap harinya jika tidak ditangani akan mencemari kualitas lingkungan di berbagai sektor seperti udara, air, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sehingga menciptakan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik.
“Contohnya saat ini mikroplastik sudah banyak tercemar baik itu udara, air, dan lainnya sehingga dapat merusak estetika serta keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang. Penyebab akar masalah ini terpusat pada budaya pengelolaan sampah yang kurang serius di sisi hilir masyarakat sebagai penghasil sampah,” ujar Nio, Jumat (5/6).
Mitigasi Krisis Iklim dan Ancaman Mikropolutan ke Depan
Krisis iklim yang sudah berulang kali terjadi di Indonesia memerlukan mitigasi yang tepat sehingga mampu memprediksi cuaca yang fluktuatif. “Misalnya dengan weather forecast yang dapat memprediksi cuaca, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan. Perubahan iklim ini memang tidak bisa dihindarkan, tetapi dapat kita cegah dengan mengelola lingkungan lebih baik,” ujar Nio.
Selain itu, terdapat ancaman lingkungan yang perlu menjadi sorotan dalam atau jangka waktu panjang adalah mikropolutan. “Mikropolutan sendiri adalah zat pencemar dengan ukuran yang sangat kecil atau mikro. Ilmu ini masih belum banyak dibahas di Indonesia, tetapi memerlukan perhatian bila tidak ditangani dan berpotensi buruk dan terakumulasi di lingkungan kedepannya,” ujar Nio.
Mulai dari Hal Kecil
Langkah konkret yang dapat dilakukan saat ini dengan cara sederhana, yaitu memanfaatkan sosial media sebagai tempat untuk mempromosikan lingkungan hijau. Contohnya memilah atau mengelola sampah, urban farming, dan lainnya. Pemerintah juga dapat memberikan reward kepada wilayah yang berhasil menghijaukan lingkungan sekitarnya sebagai bentuk apresiasi dan motivasi masyarakat.
”Karena apa yang kita mulai dari satu langkah kecil hari ini tidak berarti sekarang, tetapi bisa menjadi perubahan besar bagi generasi mendatang,” pungkas Nio. Bagus






