Kemendikdasmen Jadikan Perpustakaan Rumah Pendidikan dan Ruang Dialog

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar kegiatan Bedah Buku Bermutu berjudul “Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto” di Jakarta. Diselenggarakan bertepatan dengan Peringatan Hari Pustakawan Indonesia, acara ini bertujuan untuk memperkuat budaya literasi, nalar kritis, dan kemampuan memecahkan masalah di kalangan generasi muda serta ekosistem pendidikan nasional.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa momentum perayaan ini sangat tepat untuk menegaskan kembali peran penting pustakawan dan perpustakaan dalam dunia pendidikan. “Sebagaimana kita ketahui dengan berkembangnya teknologi, dengan berkembangnya berbagai kebijakan, perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat untuk menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang belajar, menjadi ruang dialog gagasan, dan juga menjadi simpul kolaborasi,” ujarnya, Kamis (9/7).

Suharti menambahkan, buku ini dipilih secara khusus karena mengangkat tema kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pendekatan berorientasi solusi dalam kebijakan publik. Tema tersebut dinilai sangat relevan untuk didiskusikan dalam rangka membangun kemampuan memahami kebijakan secara jernih. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk gelarwicara ini dihadiri secara luring maupun daring oleh para pejabat, asosiasi pustakawan, pegiat literasi, komunitas perbukuan, hingga perwakilan murid berprestasi dari berbagai sekolah.

Baca juga  BEM Unair Kirim Amicus Curiae ke MK, Tolak Potong Anggaran Pendidikan

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memberikan apresiasi kepada para pustakawan. Ia menolak stigma lama yang memandang posisi pustakawan sebagai penjaga fisik rak buku. Menurutnya, pustakawan adalah penggerak literasi, fasilitator pengetahuan, dan mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan berkualitas.

“Satu kenikmatan yang tentu saja paling membuat kita bahagia dan bermakna adalah ketika dengan buku kita bisa menginspirasi, dengan perpustakaan kita bisa menggerakkan anak-anak kita untuk menjadi generasi Indonesia hebat, Generasi Emas 2045,” tutur Abdul Mu’ti, yang juga membagikan cerita merintis perpustakaan desa sejak masa muda dan pengalamannya bertugas sebagai pustakawan kampus.

Mendikdasmen kemudian mengaitkan budaya literasi ini dengan keteladanan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengisahkan pengalamannya saat berkunjung ke Hambalang dan melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi buku-buku yang aktif dibaca sebagai referensi. “Pemimpin besar adalah pemimpin yang banyak membaca, pemimpin yang senantiasa memberikan inspirasi dengan gagasan-gagasannya yang cemerlang dan keberanian untuk mengambil sikap karena wawasan dan karena ilmu yang dimiliki,” tegas Mendikdasmen.

Baca juga  Kemendikdasmen Serahkan Pengelolaan KNIU ke Kementerian Kebudayaan

Kemendikdasmen berkomitmen menyelaraskan inspirasi tersebut ke dalam salah satu kebijakan strategis yaitu melalui pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam. Melalui pendekatan ini, para murid didorong untuk tidak sekadar membaca teks secara pasif, melainkan berani mereviu buku, mengeksplorasi lingkungan sekitar, dan menuangkan gagasan mereka dalam karya nyata. Selain itu, kementerian berkomitmen mentransformasi perpustakaan sekolah menjadi learning commons atau pusat pembelajaran aktif yang inklusif.

Abdul Mu’ti menaruh harapan besar agar perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai ruang kaku yang terasing di sudut sekolah atau sekadar formalitas pemenuhan akreditasi. Ia menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi menyeluruh pada perpustakaan kementerian dengan membuka aksesnya secara luas bagi seluruh anak Indonesia dan masyarakat umum. Dengan fasilitas berakreditasi A yang kini dilengkapi studio multimedia untuk menonton film, membaca, serta berdiskusi, perpustakaan kementerian dirombak menjadi sebuah “Rumah Pendidikan” yang hangat, inklusif, dan menjadi tempat interaksi langsung yang rutin antara pejabat publik, pendidik, dan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan kementerian pendidikan kini bukan semata-mata sebagai kantor tempat layanan administrasi, tapi menjadi ‘Rumah Pendidikan’ di mana siapapun anak Indonesia dapat belajar dan dapat membaca buku-buku yang ada di perpustakaan,” ujar Abdul Mu’ti.

Baca juga  Mendikdasmen Lantik Anggota BSANP, Perkuat Fondasi Penjaminan Mutu Pendidikan Nasional

Menurutnya, membaca buku “Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto” ini memberikan manfaat besar dalam memahami 180 solusi taktis kepemimpinan nasional yang nyata dan mulai berdampak bagi masyarakat. Buku ini melatih pembaca untuk menguasai kompetensi abad ke-21, yaitu kemampuan berpikir kritis, menimbang pilihan di tengah ketidakpastian, serta berani mengambil tindakan nyata yang solutif atas persoalan di lingkungan sekitar.

Mendikdasmen juga secara khusus berpesan kepada generasi muda yang hadir agar menanamkan budaya membaca sebagai fondasi pembentukan karakter tangguh. “Jadikanlah membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar kewajiban. Jadikanlah setiap buku yang kalian baca sebagai bahan refleksi, bukan sekadar informasi yang lewat begitu saja,” pungkasnya.

Kemendikdasmen berharap Peringatan Hari Pustakawan Indonesia menjadi momen untuk menghargai para pustakawan serta transformasi perpustakaan agar menjadi ruang dialog interaktif yang hangat, menyemai budaya membaca, sekaligus melahirkan calon pemimpin masa depan yang kaya akan solusi. Bg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *