Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong terwujudnya kemandirian vaksin nasional melalui peluncuran Bio-TCV Sabtu (18/7) vaksin tifoid konjugat hasil inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Bio Farma.
Kolaborasi tersebut dinilai membuktikan kemampuan Indonesia mengubah hasil penelitian menjadi produk kesehatan yang siap digunakan masyarakat.
Bio-TCV sendiri dikembangkan sebagai vaksin untuk memberikan imunisasi aktif terhadap penyakit demam tifoid akibat infeksi Salmonella typhi.
Vaksin ini dapat diberikan mulai bayi usia enam bulan hingga orang dewasa, memperkuat program imunisasi nasional sekaligus memperluas perlindungan bagi kelompok rentan.
Lebih jauh, vaksin ini diproyeksikan memasuki pasar internasional melalui proses WHO Prequalification.
Apabila tahapan tersebut berhasil dilalui, Bio-TCV tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang Indonesia menjadi bagian penting dalam rantai pasok vaksin dunia.
Kepala BPOM Republik Indonesia, Ikrar Taruna, menilai Bio-TCV bukan hanya vaksin tifoid konjugat hasil inovasi anak bangsa. “Tetapi menjadi penanda bahwa Indonesia mulai memasuki babak baru pembangunan kesehatan,” jelasnya.
Menurutnya, riset, industri, dan pemerintah kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem inovasi.
Dalam proses peluncurannya, FKUI bersama RSCM memimpin pelaksanaan uji klinis Fase I, II, hingga III dengan standar ilmiah dan etik yang ketat. Bg











