Festival Riset dan Inovasi Semarakkan HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove

Festival Riset dan Inovasi menjadi agenda utama, dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3, Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya. Melalui festival tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan ruang kolaborasi antara akademisi, pelajar, komunitas, hingga dunia industri, untuk memperkuat budaya riset sekaligus meningkatkan edukasi lingkungan, kepada masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu (25/7), juga menjadi momentum peluncuran enam inovasi berbasis riset. Inovasi yang diperkenalkan meliputi Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan (EBT), berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji mengatakan, Festival Riset dan Inovasi merupakan salah satu, dari dua agenda utama dalam rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove.

“Festival ini menjadi wadah mempertemukan hasil-hasil riset dan inovasi, dengan masyarakat. Besok rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Mangrove Eco Run 3.0,” ujar Agus.

Ia menjelaskan festival tersebut, melibatkan lebih dari 70 perguruan tinggi, sekolah, hingga komunitas lingkungan, seperti Tunas Hijau yang memamerkan berbagai hasil inovasi, kepada masyarakat. Selain pameran, BRIDA juga menghadirkan talk show yang mempertemukan akademisi, dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Surabaya, dengan kalangan industri.

“Kepala LPPM dari perguruan tinggi negeri dan swasta, kita pertemukan dengan teman-teman industriawan, ada dari PT SIER. Nah, kita juga mengundang beberapa pakar dari kampus,” jelasnya.

Baca juga  Pemkot Benahi Parkir Makam Keputih, Pasang Portal dan CCTV

Pada kesempatan tersebut, BRIDA turut meluncurkan sejumlah inovasi, yang dirancang sebagai media pembelajaran interaktif. Salah satunya Mangrove Throne, permainan berbasis geolocation, yang mengajak anak-anak mengenal ekosistem mangrove, melalui aktivitas di luar ruangan. “Jadi, adik-adik daripada di rumah, kita ajak bermain. Plus, dia harus ngisi (belajar) banyak hal terkait dengan mangrove, sehingga dia juga belajar,” ujarnya.

Selain itu, BRIDA juga memperkenalkan teknologi energi baru terbarukan (EBT), berupa mesin pirolisis, generator listrik tenaga angin, dan panel surya. Agus menegaskan, seluruh inovasi tersebut, dikembangkan sebagai sarana edukasi, bukan untuk kebutuhan produksi energi. “Semuanya itu konteksnya, adalah bukan untuk produksi, tapi itu untuk sarana edukasi. Sehingga anak-anak kita kalau ke mangrove juga belajar, tentang mangrove-nya, juga EBT-nya,” tuturnya.

Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, drg. JBisukma Kurniawati mengatakan, KRM kini berkembang tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi laboratorium hidup, yang menghubungkan riset, pendidikan, inovasi, hingga kebijakan publik.

“Di sinilah kita menghubungkan konservasi dengan penelitian, menghubungkan penelitian dengan pendidikan, dan pendidikan dengan inovasi. Inovasi dengan kebijakan publik, serta kebijakan publik dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Bisukma.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan pelajar, mahasiswa, stakeholder, dan komunitas lingkungan, yang menampilkan berbagai inovasi ramah lingkungan, selama festival berlangsung. “Hari ini beberapa inovasi juga kita luncurkan, sebagai penguat tekad bahwa langkah riset dilanjutkan inovasi, adalah keniscayaan agar denyut nadi kemajuan, tetap bersama dengan kita,” ujarnya.

Baca juga  Pemkot Sosialisasikan Perda Hunian Layak, Pemilik Kos Wajib Lapor

Bisukma berharap, berbagai inovasi tersebut dapat mendorong riset, terus berkembang menjadi solusi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

“Mari kita jadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya, sebagai simbol bahwa Indonesia memilih jalan keseimbangan. Bahwa pembangunan di berbagai bidang termasuk industri dan pelestarian lingkungan, bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dan masa depan yang sama,” harapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) R. Hendrian menyampaikan apresiasi atas perkembangan Kebun Raya Mangrove Surabaya. Menurutnya, pada 2025 kebun raya tersebut berhasil meraih penghargaan, sebagai kebun raya daerah dengan percepatan infrastruktur terbaik, di antara 44 kebun raya daerah di Indonesia.

“Prestasi yang pertama adalah penghargaan dari BRIN, sebagai Kebun Raya dengan percepatan infrastruktur, yang paling siap di antara 44 kebun raya daerah yang lain,” ujar Hendrian.

Pada tahun yang sama, Kebun Raya Mangrove Surabaya juga dinobatkan, sebagai kebun raya terbaik kedua di Indonesia. “Di usia yang baru dua tahun, Kebun Mangrove Surabaya ketika itu, sudah berhasil menjadi Kebun Raya terbaik kedua se-Indonesia,” imbuhnya.

Baca juga  Pemkot bersama Satgas Anti Premanisme Sisir Manukan Jukir Diamankan

Hendrian menilai capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh, dari Pemkot Surabaya, akademisi, dan para pemangku kepentingan. “Tidak ada satupun kebun raya yang berhasil dan sukses, tanpa ada dukungan dari pemerintah daerahnya,” katanya.

Pihaknya memandang, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki nilai strategis, karena masih sangat sedikit kebun raya di dunia, yang secara khusus mendedikasikan konservasinya pada tumbuhan mangrove.

“Kebun Raya Mangrove Surabaya, memainkan peran yang sangat penting dalam hal ecosystem service bagi Kota Surabaya. Oleh sebab itu, tidak hanya Pak Wali Kota (Eri Cahyadi), tetapi seluruh masyarakat mudah-mudahan bersama-sama, menjaga Kebun Raya ini agar tetap bisa lestari,” pungkasnya.

Sebagai informasi, rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove digelar selama dua hari, 25-26 Juli 2026. Selain Festival Riset dan Inovasi, kegiatan hari pertama juga diisi dengan Living Laboratory, Green UMKM Corner, penanaman bibit mangrove, penyebaran benih ikan bandeng, yoga, serta lomba riset dan inovasi mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Pemkot Surabaya juga menandatangani kesepakatan bersama, dengan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan BMKG Kelas I Juanda Sidoarjo. Kesepakatan bersama ini sebagai bentuk kolaborasi, dalam mendukung pelestarian lingkungan dan penguatan ekosistem mangrove. (yunus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *