Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyerukan kepada pesantren, khususnya di lingkungan NU, untuk lebih memperhatikan lagi masalah sistem pengawasan santri-santri.
Ini disampaikan Gus Yahya menanggapi wafatnya santri karena dugaan kekerasan. Gus Yahya mengaku sangat prihatin dan mendorong pihak pesantren terkait untuk sepenuhnya mengusut kasus tersebut sampai tuntas.
“Kita mendukung Pesantren Gontor sepenuhnya untuk mengatasi ini dengan baik. Atas nama PBNU, kami menyampaikan belasungkawa,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan NU, Rabu (7/9).
Gus Yahya juga berharap, peristiwa itu bisa menjadi pembelajaran bersama terkait pengelolaan sistem pengawasan pesantren untuk menghindari potensi terulangnya kejadian serupa.
“Mudah mudahan di masa yang akan datang dikelola dengan baik dan bisa dicegah hal ini terulang,” harapnya.
Menurutnya, pesantren mengharamkan tindak kekerasan sebagai bentuk hukuman. Umumnya, sanksi yang diterapkan justru mengajarkan pelanggar untuk lebih disiplin dan tidak mengulangi kesalahan serupa.
“Biasanya, sanksi itu kerja bakti atau membuat tugas belajar yang dilipatgandakan, tapi tidak dengan kekerasan. Jika sampai ada seperti itu, secara mutlak harus kita tolak, jangan sampai ada itu,” tutur Gus Yahya.
Dia menegaskan, penjatuhan sanksi dalam bentuk kekerasan sangat tidak relevan dengan perkembangan saat ini.
“Jangan sampai santri itu disanksi dengan kekerasan. Ini zamannya sudah berbeda, dan jangan disamakan dengan legenda seperti kiai yang memukul santri lalu santrinya pintar. Tidak begitu,” pungkas Gus Yahya. Bg






